Mimpi Rakyat dalam Pesta Demokrasi

- Jurnalis

Senin, 1 April 2019 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Iwit Widhi Santoso *)

*) Penulis adalah penasehat Forum Pewarta Pacitan (FPPA)

BEBERAPA hari lagi rakyat memilih. Pesta demokrasi lima tahunan ini menawarkan banyak mimpi. Partai peserta Pemilu bermimpi menjadi pemenang. Para calon legislatif bermimpi menjadi wakil rakyat di parlemen. Dan rakyat pun bermimpi ada perubahan perbaikan dalam kehidupannya.

Sebagai negara demokrasi, pemerintahan di Indonesia berlandaskan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun ini, Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) dilakukan serentak. Dalam Pilpres, siapapun pemenangnya, tentu yang mendapat dukungan kuat dari rakyat. Dengan dukungan tersebut, diharapkan presiden dan wakil presiden terpilih dapat melaksanakan tujuan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukan Undang-Undang Dasar 1945.
Yakni, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tentunya, Pemilu, merupakan sarana untuk merealisasikannya. Kesadaran masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu menandakan dukungan terhadap pelaksanaan pemilu dan demokrasi. Pada saat pemilu, diharapkan masyarakat ikut serta menyukseskan proses ini dengan cara mengawasi pelaksanaannya.

Begitu juga dengan Pileg. Sebab, negara menjamin bahwa setiap warga negara memiliki wakil yang duduk di lembaga legislatif. Tujuannya tentu untuk menyuarakan sekaligus meperjuangkan aspirasi rakyat di setiap tingkatan pemerintahan. Baik di pemerintah pusat hingga daerah.
Namun pada kenyataanya, Pemilu bagi sebagian kalangan rakyat justru melahirkan sikap yang acuh. Sebab, hajatan politik ini hanya menjadi ritual yang dirasa belum mampu mewakili kepentingan substansial rakyat kecil pada umumnya.

Baca Juga :  Saptono Optimis Aji-Gagarin Menang Besar di Kampung Isyah Ansori Mentoro

Adalah wajar, perasaan diperalat para elit timbul dalam kesadaran mereka. Sebagai konstituen, rakyat seharusnya mendapat perlakuan istimewa. Kapan dan di manapun berada. Ironisnya, prinsip rakyat sebagai raja hanya muncul pada tempat dan momen tertentu. Rakyat dimanja ketika Pemilu diambang pintu. Kemudian dilupakan tatkala pesta itu usai. Inilah kenyataan yang selalu terulang setiap kali bangsa ini melangsungkan pesta demokrasi.
Sebenarnya, harapan masyarakat dapat dikatakan sederhana: menumpukan harapan kepada wakil-wakilnya yang terpilih saat pemilu. Baik di tingkat legislatif maupun eksekutif. Baik para anggota parlemen, maupun kepala daerah hingga kepala negara. Dan para wakil yang terpilih ini, diharapkan merupakan tokoh yang mumpuni, nasionalis, bersih dari korupsi, serta konsisten membela kepentingan rakyat.
Sebab suara sudah disalurkan rakyat, prosedur sudah dilaksanakan, dan pemilu yang tidak murah, tentu ada sebuah harapan besar. Yakni wakil yang terpilih itu harus tanggap dalam membela rakyat di semua lini kehidupan.

Baca Juga :  Geruduk KPU Madiun, Tikus Pithi Minta Capres Independen

Kondisi tersebut, tentu harus diimbangi dengan peran aktif seluruh elemen rakyat, dalam mengontrol kinerja para wakil-wakilnya yang telah dipilih melalui pemilu tersebut. Upaya itu, sekaligus mengawal mimpi-mimpi masyarakat yang ditumpukan kepada para wakil tersebut. Baik di tingkat pemerintahan legislatif maupun eksekutif. Mengingat pemilu merupakan sarana demokrasi untuk memilih wakil rakyat guna menyalurkan mimpi tidak hanya di tataran legislatif, tetapi juga di eksekutif. Baik dari tingkat bawah, hingga level pemerintahan pusat.

Tentu, para wakil terpilih, harus dapat menjauhkan sifat dan sikap eksklusif. Termasuk bertindak tirani, yang dapat menghancurkan alam demokrasi. Para wakil tersebut, harus mampu menjalankan tugas pokok serta fungsi dari amanah yang diembannya. Seperti di tataran legislatif, mampu menjadi wakil rakyat yang baik dalam upaya legislasi, anggaran hingga pengawasan terhadap roda pemerintahan. Begitu pula sikap yang dilakukan oleh wakil rakyat yang duduk di tingkat eksekutif. Sehingga mimpi masyarakat dapat terealisasi, terutama cita-cita besar rakyat Indonesia: terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga! (*)

Berita Terkait

Demokrat Luncurkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Targetkan 666 Aksi Sosial-Lingkungan hingga Akhir Agustus
Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta
RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini
Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026
DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja
DBHCHT 2026: Pemkab Pacitan Alokasikan Rp700 Juta untuk Pelatihan Petani dan Buruh Tembakau
Pacitan Targetkan Perluasan Tembakau 513 Hektare, Ratusan Kelompok Tani Dapat Bantuan DBHCHT
Satpol PP Pacitan Bersama Tim Gabungan Berhasil Temukan Rokok Tanpa Pita Cukai Resmi Di Kecamatan Sudimoro

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:36 WIB

Demokrat Luncurkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Targetkan 666 Aksi Sosial-Lingkungan hingga Akhir Agustus

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:33 WIB

Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:35 WIB

RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:51 WIB

Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026

Senin, 22 Juni 2026 - 23:18 WIB

DBHCHT 2026: Pemkab Pacitan Alokasikan Rp700 Juta untuk Pelatihan Petani dan Buruh Tembakau

Berita Terbaru