Daerah Pacitan Pemerintahan

Jumat, 7 Mei 2021 - 15:35 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Sambutan Perdana Bupati Pacitan, Saatnya Nyawiji Menyatukan Rasa Karsa dan Karya Untuk Kesejahteraan dan Kebahagiaan Masyarakat Pacitan Nyumrambah Sampai Pelosok Desa

LNTAS7.NET, PACITAN-Usai dilantik secara resmi sebagai Bupati-Wakil Bupati Pacitan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Pendapa Kabupaten Pacitan, Jumat (7/5/2021), Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji dan Wakil Bupati Gagarin Sumrambah, lanjut mengikuti acara serah terima jabatan dan penyampaian pidato dan sambutan perdananya sebagai Bupati Pacitan dalam rapat paripurna.

Dalam sambutanya, Bupati Indrata Nur Bayuaji memaparkan visi-misi dan program yang akan dilaksanakan pada masa pemerintahanya. Dimana dengan prinsip mengutamakan rakyat, berikhtiar yang terbaik, meneruskan pengabdian para Bupati dan Wakil Bupati Pacitan terdahulu untuk masyarakat Pacitan yang lebih baik.

“Rakyat tidak boleh hanya menjadi semboyan, tidak boleh hanya menjadi jargon, akan tetapi harus benar-benar menjadi sebuah semangat, menjadi sebuah spirit untuk bekerja bagi kepentingan rakyat, sekaligus sebagai pengingat bahwa dalam semua kebijakan pemerintah, rakyatlah yang harus diutamakan, kesejahteraan dan keselamatan rakyatlah yang utama. Rakyat harus dibantu, rakyat harus ditolong, rakyat harus dimuliakan,” tegas Indrata Nur Bayuaji.

Lebih lanjut, tiga setengah tahun tentu bukan waktu yang ideal untuk menyelesaiakan seluruh agenda pemerintahan, apalagi di masa pandemi seperti ini. Tetapi tiga tahun setengah akan terlalu sia-sia jika kita hanya berpangku tangan dan pasrah pada keadaan. Kita harus yakin, bahwa kita bisa bangkit dari kondisi ini, kita bisa bangkit melawan Covid-19, perekonomian memang terhambat karena dampak pandemi Covid-19, namun kuncinya adalah tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, maka perekonomian akan tumbuh, dan kondisi masyarakat akan lebih baik.

Visi kami, masyarakat Pacitan yang sejahtera dan bahagia bukanlah sebuah angan-angan belaka, tetapi adalah sebuah cita-cita masa depan yang terukur dan bisa dicapai.
Sejahtera dan bahagia harus kita maknai secara utuh, komprehensif, kaffah bahwa kebutuhan manusia tidak hanya tentang sisi-sisi lahir yang nampak saja.

Tantangan permasalahan Pacitan saat ini sangatlah kompleks. Angka kemiskinan yang cukup tinggi sebesar 14,54 persen di tahun 2020, di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur yaitu 11,09 persen pada Maret 2020. Hal ini menjadi pertanda, perlu dipikirkan sungguh-sungguh untuk menghadirkan kebijakan yang mampu memenuhui basic needs, kebutuhan dasar bagi masyarakat.
Indeks pembangunan manusia Pacitan di angka 68,39 dalam kategori sedang, menempatkan Kabupaten Pacitan pada urutan ke 29 se- Jawa Timur. Hal ini harus menjadi pemacu bahwa kita harus lebih fokus untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan pada sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Pemerataan pembangunan infrastruktur dasar yang layak, yang menunjang kegiatan ekonomi masyarakat, juga masih menjadi isu utama.
Belum lagi tentang pemenuhan kebutuhan air bersih, isu banjir kota, pemerataan jaringan komunikasi dan listrik, dukungan terhadap infrastruktur pertanian dan lain-lain.

Penanganan Covid-19 juga memaksa kita harus lebih arif dalam merumuskan kebijakan. Harus berimbang antara menjamin keselamatan masyarakat dari bahaya virus covid-19 dengan memberikan kesempatan masyarakat dalam berusaha memenuhi kubutuhan hidup.

Pacitan harus lebih baik, ekonomi harus tumbuh secara positif dan merata. Pertumbuhan dari sektor pertanian dan perikanan tetap menjadi prioritas. Pembangunan pertanian dan perikanan wajib menggunakan strategi pembangunan berbasis kawasan.

Sebagai contoh, wilayah Kecamatan Donorojo, Pringkuku dan Punung masuk pada wilayah pengolahan hasil coklat, kopi, kelapa, biofarmaka dan buah-buahan lalu Arjosari, Pacitan, Kebonangung, Tulakan, Ngadirojo dan Sudimoro masuk dalam wilayah pengembangan kelapa, kakao dan kopi, selanjunya, Bandar, Nawangan dan Tegalombo menjadi wilayah pengembangan kopi, bifarmatika, jeruk,pisang,janggelan dan sekaligus sapi, kambing serta ayam.

Sektor pariwisata akan kami jadikan lokomotif pertumbuhan ekonomi. Pariwisata harus mampu menggerakkan sektor UMKM, menggerakkan sektor jasa dan perdagangan, menciptakan peluang usaha dan pekerjaan, serta menggerakkan sektor-sektor usaha yang lain.

Pertumbuhan ekonomi tentu harus didukung oleh sektor-sektor yang lain. Pembangunan infrastruktur tidak hanya harus berkualitas, tetapi harus mencerminkan pemerataan yang berkeadilan sampai dengan wilayah perbatasan. pembangunan infrastruktur harus mampu menopang aktivitas ekonomi, memperlancar mobilitas barang dan jasa masyarakat, mendukung usaha pertanian, serta menciptakan titik pertumbuhan ekonomi dan obyek pariwisata baru.

Dengan ekonomi yang secara perlahan tumbuh pada masa pandemi ini, kami berharap secara konsisten akan mampu memperbaiki kualitas dan akses pendidikan, memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan sampai dengan pada tingkat desa.

Semua hal yang kami sampaikan di atas harus didukung oleh birokrasi pemerintah yang profesional. Birokrasi harus mampu berinovasi dalam melayani masyarakat. birokrasi harus bekerja lebih keras, harus mampu bersinergi dengan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah desa. Perlu lompatan-lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan Pacitan dari kabupaten/kota lainya.

“Mimpi tentang Pacitan yang sejahtera dan bahagia, bukan hanya menjadi mimpi kami. Akan tetapi akan menjadi mimpi kita semua. Untuk itu, sudah saatnya nyawiji, menyatukan rasa, karsa, dan karya kita untuk kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh masyarakat Pacitan nyumrambah sampai ke pojok-pojok desa,” pungkas Bupati ke-33 ini mengakhiri sambutan. (Ris/IS/red)

Artikel ini telah dibaca 884 kali

Baca Lainnya