Menu

Mode Gelap
Kapolda Jatim Sampaikan Permohonan Maaf Atas Tragedi Kanjuruhan Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Kepala KPLP Lapas I Madiun Sampaikan Ini BNPT Pantau Pelaksanaan Program Deradikalisasi Napi Terorisme di Lapas I Madiun  Puluhan Pedagang Pasar Pagotan Ikuti Sosialisasi Pasar Aman dari Bahan Berbahaya  Libatkan Bapas dalam Assessment Napi, ini Alasan Lapas I Madiun 

Nasional · 3 Agu 2022 13:48 WIB ·

SDN 1 Mangkujayan Jadi Satu-satunya SD yang Lolos 10 Besar FRM


 Dokumen FRM. Perbesar

Dokumen FRM.

LINTAS7.NET, PONOROGO- Sebuah prestasi membanggakan kembali diraih siswa siswi SDN 1 Mangkujayan Ponorogo, Jawa Timur. Betapa tidak, sekolah dasar yang berada di jantung kota Ponorogo ini menjadi satu satunya sekolah dasar yang lolos dalam 10 besar peserta Festival Reog Mini (FRM) tahun 2022.

Menariknya, grup reog Putro Manggolo Sekti, merupakan grup reog yang baru dibentuk. Bahkan grup reog ini, baru pertama kali mengikuti FRM, namun mampu masuk di 10 besar terbaik. Tepatnya berada di urutan ke tujuh.

Kepala sekolah SDN 1 Mangkujayan, Igut Istrijah mengaku tidak menyangka dengan capaian yang diraih anak didiknya. Apalagi mereka harus bersaing dengan 30 grup reog yang memiliki pengalaman cukup mumpuni. Apalagi mayoritas peserta FRM kali ini dari SMP maupun sanggar seni.

‘’Kami berlatih hanya satu setengah bulan dan hanya menyesuaikan kemampuan kapasitas anak. Kan usia mereka masih belia, jadi susah susah gampang,’’ kata Igut Istrijah, saat dikonfirmasi (3/8).

Menurut Igut, kesuksesan dalam dunia pendidikan formal maupun non formal dari kesabaran dan ketekunan. ‘’Susah itu bukan berarti tidak bisa, tapi disini dituntut untuk lebih sabar dan telaten serta disiplin tinggi. Artinya kalau Latihan tidak boleh ijin kecuali sangat mendesak,’’ jelasnya.

Sementara dalam FRM kali ini, SDN 1 Mangkujayan melibatkan 70 anak didik yang terdiri dari siswa kelas 3 hingga kelas 6. Pelatihnya pun dari guru sekolah. Yakni Deny Setiawan yang didukung tim sanggar DoorAnom.

‘’Grup kami memaksimalkan yang ada. Untungnya didukung sanggar milik salah satu siswa, jadi kami lebih mudah dalam mengkolaborasikan antara irama dengan gerakan tari. Paling susah itu justru mengajari wira swara karena anak anak kesulitan menghafal syair dan cengkok Bahasa Jawa,’’ jelas Deny. (Ct/Red).

 

Artikel ini telah dibaca 119 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Ketua PWNU Jatim Imbau Warga NU Gelar Sholat Ghaib Doakan Korban Tragedi Kanjuruhan

5 Oktober 2022 - 11:36 WIB

Kapolda Jatim Sampaikan Permohonan Maaf Atas Tragedi Kanjuruhan

5 Oktober 2022 - 11:31 WIB

Nugroho Setiawan : Tragedi Kanjuruhan Seharusnya Bisa Diantisipasi

3 Oktober 2022 - 18:00 WIB

Terkait Pertanggungjawaban Insiden Stadion Kanjuruhan, Analis Keamanan Publik Roger P. Silalahi Angkat Bicara

3 Oktober 2022 - 17:57 WIB

Pakar Hukum Unpad Sebut Tragedi di Stadion Kanjuruhan Bukan Peristiwa Pidana

2 Oktober 2022 - 22:44 WIB

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Mahfud MD : Polisi Sudah Usulkan Pertandingan Sore dan Penonton Sesuai Kapasitas Stadion

2 Oktober 2022 - 22:41 WIB

Trending di Nasional