Menu

Mode Gelap
Dilaksanakan Dua Tahap, Wali Murid Diimbau Jeli Perhatikan Setiap Tahapan PPDB Kota Madiun Ponorogo Go To UCNN, Reward KaTa Kreatif dari Menparekraf Ketua Taruna Merah Putih Kota Madiun Dirikan Posko Kemenangan PDI Perjuangan  Viral Tabrak Lari di Madiun, Polisi Buru Pelaku Gelontor Dana Rp 67,7 M, Pemkab Ponorogo Perbaiki 388 Titik Jalan Rusak

Features · 14 Nov 2019 22:37 WIB ·

Tak Punya Biaya, Seorang Nenek di Ponorogo Pasrah Wajahnya Digerogoti Kanker Kulit


 Tak Punya Biaya, Seorang Nenek di Ponorogo Pasrah Wajahnya Digerogoti Kanker Kulit Perbesar

Lintas7.net, PONOROGO – Kondisi nenek Sarjinah warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur benar-benar memprihatinkan.

Nenek kelahiran 1939 ini tinggal seorang diri di sebuah gubug reot berukuran 4×4 yang hanya terdiri dari kamar dan ruangan kecil jika ada orang bertamu.

Jangan membayangkan lantai ubin apalagi keramik, rumah nenek Sarjinah hanya beralaskan tanah liat. Atapnya hanya genteng biasa. Tanpa plafon. Pun, penerangannya temaram. Tak ada lampu yang membuat rumahnya lebih terang.

Kondisi fisik nenek Sarjinah juga memprihatinkan. Kanker kulit menggerogoti mata kanannya hingga habis. Praktis, nenek Sarjinah hanya bisa melihat dengan mata kirinya.

Kondisi rumah nenek Sarjinah

Ketika penulis singgah ke rumahnya pada Jum’at (8/11/2019) lalu, nenek Sarjinah sedang berbaring di tempat tidurnya yang terbuat dari bambu.

“Monggo pinarak teng ngajeng (Silahkan duduk di depan),” kata Nenek Sarjinah menyapa.

Dengan susah payah, nenek Sarjinah bangun lalu menuju ruang tamu. Terlihat mata sebelah kanan nenek Sarjinah diperban. Samar-samar tercium bau seperti daging membusuk di rumahnya.

“Maaf ya, ini mata nenek ditutupi karena memang menderita sakit kanker. Ini mata nenek sudah hampir hilang,” katanya.

Ia lalu bercerita, kanker kulit yang dideritanya bermula ketika lima tahun lalu, saat sedang mandi, tiba-tiba tahi lalat yang ada di sekitar matanya lepas. 

Meski tahi lalatnya lepas, nenek Sarjinah mengaku tidak langsung ke dokter. Alasannya, takut akan biayanya. Apalagi saat itu, dirinya hanya sebagai pedagang kembang setaman. Suaminya juga tidak ada, sehingga tidak ada yang mengantar periksa ke dokter atau Puskesmas. Pun, semuanya terasa biasa saja, tidak ada yang aneh setelah kejadian itu.

Baru setelah beberapa waktu kemudian, mulai muncul rasa gatal di sekitar tahi lalat yang copot itu. Tak betah, nenek Sarjinah pun menggaruknya.

“Awalnya tidak terjadi apa-apa biasa saja, tetapi kemudian gatal-gatal. Ya saya garuk saja dengan tangan. Tapi lama-lama juga sakit,” jelasnya.

Tiga bulan berlalu, rasa gatal itu semakin menjadi. Sangking gatalnya, dia tidak tahan dan meminta tolong kepada tetangga depan rumahnya untuk mengantarkan ke Puskemas.

“Akhirnya saya tidak tahan. Saya minta tolong kepada tetangga di depan yang bernama Sulis mengantarkan. Karena saya sendirian tidak ada keluarga lain,” urainya.

Saat itu, kenangnya, dari pemeriksaan dokter dia didiagnosa menderita kanker kulit. Dan harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Harjono, Ponorogo. 

“Saya masih takut saat itu. Hanya ingin berobat di Puskesmas. Jadi cuma diobati seadanya. Hanya diperban begitu saja oleh dokter di Puskesmas,” ungkapnya.

Namun, 6 bulan belakangan pengobatan dari puskesmas dirasa tidak mempan. Dirinya pun dibawa ke RSUD dr. Harjono. Diperiksa oleh dokter spesialis bedah, dr. Heru Iskandar.

“Katanya kanker saya sudah stadium 4. Dan harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya atau di Solo,” terangnya.

Lagi-lagi, nenek Sarjinah menolak. Dia mengaku tidak mempunyai biaya untuk wira-wiri ke Solo. Dan tidak mau merepotkan tetangganya.

“Kalau BPJS saya punya. Tapi kan biaya wira-wiri. Di Solo atau Surabaya tidak mungkin sehari. Pasti bolak-balik,” katanya.



Menurutnya, jangankan untuk biaya pengobatan. Untuk makan sehari-hari saja, nenek Sarjinah masih harus menggantungkan hidupnya kepada para tetangga.

Seperti pagi tadi, kata dia, dirinya makan dari yang diantarkan oleh tetangga. Dia mengaku beruntung mempunyai tetangga yang baik.

Apapun masakan tetangganya, nenek Sarjinah selalu memakannya. Karena tidak ada pilihan lain. “Ya dimakan saja. Pagi, siang dan malam diantarkan,” terangnya.

Pun, yang mengganti perban juga dibantu oleh Sulis. “Saya beruntung. Tapi saya tidak mau merepotkan lebih banyak lagi,” tegasnya.

Dia berharap dari pemerintah untuk lebih diperhatikan. “Pengen sembuh. BPJS sudah punya tapi kan biaya ke Solo tidak ada,” harapnya.

Sementara, dokter spesialis bedah RSUD dr Harjono, dr Heru Iskandar menjelaskan memang Nenek Sarjinah sudah periksa. Namun, untuk mengobatinya tidak bisa dilakukan di RSUD dr Harjono. 

“Kami belum ada alatnya. Memang harus dibawa ke rumah sakit type A seperti Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya dan Rumah Sakit dr Mawardi Surakarta,” katanya.

Menurutnya, nenek Sarjinah harus menjalani operasi mengangkat kanker yang ada di sekitar matanya. Nantinya, setelah baru dikembalikan dan dilakukan operasi kembali.

“Mungkin jika operasi mengangkat sel kanker kami bisa. Tapi kan harus ada semacam rekonstruksi ulang. Itu yang di rumah sakit sini tidak bisa,” pungkasnya. (mia/ant)

Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Ponorogo Go To UCNN, Reward KaTa Kreatif dari Menparekraf

22 Mei 2023 - 08:26 WIB

Jangan Mau Diadu Domba, Dulu Saya Rival Pak Jokowi Sekarang Bersatu Demi Rakyat Indonesia

20 Mei 2023 - 12:53 WIB

Polisi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster Senilai Ratusan Juta.

19 Mei 2023 - 22:53 WIB

Ketua Taruna Merah Putih Kota Madiun Dirikan Posko Kemenangan PDI Perjuangan 

18 Mei 2023 - 14:49 WIB

Bupati Sugiri Resmikan Gedung Al-Kautsar dan Pokestren Al-Islam

17 Mei 2023 - 11:42 WIB

Eva Sundari Nyaleg Partai Nasdem, Kader PDI Perjuangan Kota Madiun: Tidak Sabar Mendidik Rakyat

16 Mei 2023 - 16:01 WIB

Trending di Madiun