LINTAS7.NET, PACITAN – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Terhentinya aliran Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPAM) memaksa masyarakat menghemat persediaan hingga membeli air secara mandiri.
Kondisi tersebut dialami warga Dusun Bedali, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo. Pada Minggu (18/10/2026), warga berbondong-bondong mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih dari komunitas Anak Rantau Pacitan (ARPAC). Tingginya kebutuhan membuat bantuan tersebut habis dibagikan dalam waktu kurang dari dua jam.
Salah seorang warga, Suwarni, 35 tahun, mengatakan kekeringan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk untuk mandi.
“Aduh, sangat-sangat kering banget. Mau mandi saja susah,” ujarnya.
Selama ini, ia mengandalkan pasokan HIPAM yang hanya mengalir sesekali sebelum kembali terhenti. Kondisi sumur yang mulai mengering juga membuat warga semakin kesulitan mendapatkan air.
“Biasanya dari PAM. Tapi sekarang kapan itu nyala sebentar, setelah itu sudah tidak nyala lagi. Jadi, ya kering,” ungkapnya.
Warga terpaksa mengandalkan bantuan atau membeli air dari tempat lain. Mereka yang memiliki penampungan besar bisa patungan membeli satu tangki, sedangkan warga dengan penampungan kecil harus membeli air dalam jumlah terbatas.
“Kalau ada bantuan seperti ini ya mengandalkan bantuan. Sumur juga sudah mulai habis. Kalau punya tampungan dan airnya habis, ya harus irit. Kadang beli air ke tempat lain, kalau yang punya tampungan besar bisa patungan beli satu tangki,” jelasnya.
Kepala Desa Gedompol, Susanto, menjelaskan keterbatasan air berkaitan dengan sumber air dan sistem distribusi HIPAM lokal. Satu sumber air harus melayani 10 dusun secara bergiliran sehingga satu dusun terkadang menunggu hingga sekitar 10 hari untuk mendapatkan pasokan kembali.
“Sebenarnya kita punya HIPAM lokal, tetapi satu sumber itu digunakan untuk 10 dusun. Karena harus bergiliran, akhirnya kita juga kekurangan. Satu dusun itu bisa memakan waktu 10 hari,” katanya.
Dampak kekurangan air dirasakan sekitar 150 kepala keluarga (KK) di Dusun Bedali. Hampir seluruh warga terdampak ketika aliran air terhenti. Meski demikian, kondisi kekurangan air dapat berkurang sementara saat giliran distribusi HIPAM tiba.
Susanto mengapresiasi bantuan ARPAC yang dinilai meringankan beban masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian ARPAC. Bantuan ini tentunya sangat bermanfaat bagi warga kami di Desa Gedompol,” ujarnya.
Sekretaris DPP ARPAC, Agung Wahono, mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil konsolidasi dan penggalangan dana selama sekitar dua pekan melalui media sosial serta dukungan anggota dan warga Pacitan di perantauan.
“Dalam dua minggu belakangan ini, kami melakukan konsolidasi sekaligus menggalang dana, baik melalui media sosial maupun teman-teman di perantauan, karena Pacitan saat ini membutuhkan air bersih,” kata Agung.
Distribusi tahap awal menyasar sejumlah titik di Kecamatan Donorojo, Sudimoro, dan Punung. Untuk menjangkau wilayah dengan akses terbatas, ARPAC menggunakan kendaraan engkel berkapasitas 3.000–4.000 liter, sedangkan truk tangki berkapasitas 5.000–6.000 liter dikerahkan ke lokasi yang memungkinkan.
“Kami menyesuaikan dengan kondisi lokasi. Kalau wilayahnya masuk pedalaman dan tangki tidak bisa menjangkau, kami menggunakan kendaraan engkel,” jelasnya.
Penyaluran selanjutnya direncanakan menjangkau Kecamatan Pringkuku dan Arjosari. ARPAC juga menjadwalkan distribusi gelombang kedua pada Rabu dan Kamis dengan sasaran sekitar 18 lokasi tambahan. Secara keseluruhan, sebanyak 35 tangki air bersih disiapkan untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Agung menyebut penentuan penerima bantuan didasarkan pada usulan anggota ARPAC dari berbagai kecamatan dengan memprioritaskan wilayah yang paling membutuhkan. Hingga kini, terdapat 58 titik usulan yang masuk.
“Data yang masuk sampai saat ini ada 58 titik. Kami prioritaskan lokasi yang lebih membutuhkan terlebih dahulu. Kalau nanti masih ada sisa dana dari donatur, tentu akan kami upayakan agar bantuan bisa menjangkau lebih banyak warga,” pungkasnya.
Bantuan air bersih tersebut menjadi penopang sementara bagi warga yang kesulitan mendapatkan pasokan. Namun, kondisi di Desa Gedompol menunjukkan pentingnya penguatan sumber air dan perbaikan sistem distribusi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.






