LINTAS7.NET, PACITAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Tabletop Exercise (TTX) Dokumen Rencana Kontingensi Bencana Tsunami Bidang Kesehatan pada selama bulan Oktober 2026 ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan serta meningkatkan kapasitas penanganan kedaruratan kesehatan apabila terjadi bencana tsunami.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Sosial, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Pelibatan berbagai instansi tersebut penting mengingat Kabupaten Pacitan merupakan salah satu wilayah pesisir selatan Jawa Timur yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tsunami.
Kondisi ini menuntut kesiapan yang terencana, terkoordinasi, dan terintegrasi, khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menegaskan bahwa kesiapsiagaan sektor kesehatan merupakan bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana. Menurutnya, penanganan bencana tidak hanya mencakup proses evakuasi dan penyelamatan korban, tetapi juga kesiapan tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan logistik medis, serta mekanisme koordinasi antarlembaga.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa sektor kesehatan memiliki perencanaan yang jelas dan mampu bergerak secara terkoordinasi ketika terjadi bencana. Kesiapan tersebut harus dibangun sebelum bencana terjadi sehingga, ketika situasi darurat muncul, pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap dapat berjalan secara optimal,” ujar Daru.
Pelaksanaan TTX berlangsung selama dua hari dengan materi dan kegiatan yang dirancang untuk menguji kesiapan para pemangku kepentingan dalam menghadapi skenario kedaruratan akibat bencana tsunami.
Pada hari pertama, peserta memperoleh pembekalan mengenai manajemen krisis kesehatan. Materi tersebut mencakup mekanisme penanganan kedaruratan, sistem koordinasi, serta peran masing-masing instansi dalam mendukung pelayanan kesehatan saat terjadi bencana.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi berbasis skenario untuk mempraktikkan koordinasi dalam penanganan kedaruratan kesehatan.
Peserta dihadapkan pada situasi yang menggambarkan berbagai tantangan potensial, mulai dari pengorganisasian pelayanan medis darurat, pemenuhan kebutuhan logistik, kendala operasional, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi krisis.
Melalui simulasi tersebut, setiap instansi diharapkan dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya sekaligus mengidentifikasi potensi hambatan yang mungkin muncul ketika rencana kontingensi diimplementasikan di lapangan.
Koordinasi lintas sektor menjadi salah satu aspek utama yang ditekankan dalam kegiatan ini. Penanganan bencana tsunami memerlukan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari evakuasi dan penyelamatan, penyediaan sarana dan prasarana, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, hingga penanganan korban dan pemulihan pelayanan kesehatan.
Dinkes Pacitan berharap pelaksanaan Tabletop Exercise ini tidak berhenti pada kegiatan simulasi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan Dokumen Rencana Kontingensi Bencana Tsunami Bidang Kesehatan.
Dengan demikian, perencanaan yang telah disusun dapat menjadi pedoman operasional yang lebih aplikatif, sesuai dengan kebutuhan daerah, serta mampu mendukung respons kedaruratan secara cepat dan tepat.
Penguatan kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas sistem manajemen penanggulangan bencana bidang kesehatan di Kabupaten Pacitan sekaligus meminimalkan risiko dan dampak terhadap keselamatan serta kesehatan masyarakat apabila bencana tsunami terjadi.






