Penulis : Muharrimin
JAKARTA, 17 Januari 2026 – Di tengah dinamika politik global yang kian tidak menentu, Indonesia ditegaskan perlu memperkuat benteng kedaulatan di berbagai lini. Memasuki tahun 2026, ancaman politik global bukan lagi sekadar wacana diplomatik, melainkan tantangan nyata yang menyentuh aspek ekonomi, digital, hingga kedaulatan wilayah.
Pengamat kebijakan publik dan pakar geopolitik menyoroti empat pilar utama yang menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional Indonesia dalam 12 bulan ke depan:
1. Polarisasi Kekuatan Besar (Decoupling Geopolitik)
Persaingan antara kekuatan besar dunia, khususnya Amerika Serikat dan Tiongkok, telah menciptakan fragmentasi ekonomi. Indonesia dituntut untuk tetap konsisten dengan prinsip “Bebas Aktif” namun dengan pendekatan yang lebih pragmatis. Fokus utama adalah memastikan investasi asing tetap mengalir tanpa mengorbankan kedaulatan sumber daya alam.
2. Ancaman Perang Siber dan Disinformasi Berbasis AI
Seiring dengan masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Indonesia menghadapi risiko serangan siber yang lebih canggih. Penggunaan teknologi deepfake untuk memanipulasi opini publik dan serangan terhadap infrastruktur data nasional menjadi ancaman non-fisik yang dapat memicu ketidakstabilan sosial.
3. Kerentanan Rantai Pasok Pangan dan Energi
Ketegangan yang masih berlanjut di beberapa titik panas dunia (Eropa Timur dan Timur Tengah) menyebabkan volatilitas harga komoditas global. Indonesia harus mewaspadai “inflasi impor” yang dapat menekan daya beli masyarakat. Diversifikasi pasar ekspor dan penguatan produksi pangan domestik menjadi kunci mitigasi.
4. Eskalasi Keamanan di Laut Natuna Utara
Posisi strategis Indonesia di persimpangan jalur perdagangan dunia menempatkan wilayah Natuna pada risiko gesekan militer antar-negara. Penguatan kehadiran militer yang terukur dan diplomasi maritim yang tegas menjadi prioritas utama untuk menjaga integritas wilayah NKRI.
Menuju Indonesia yang Tangguh
“Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam panggung politik global. Tahun 2026 adalah tahun di mana kita harus menunjukkan kepemimpinan taktis di kawasan. Ketahanan nasional kita bergantung pada seberapa cepat kita beradaptasi dengan disrupsi teknologi dan perubahan peta kekuatan dunia,” ujar perwakilan analis dari Forum Kajian Strategis Nasional.
Pemerintah terus didorong untuk mempercepat transformasi digital yang aman serta memperkuat hilirisasi industri sebagai strategi untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rapuh.
Penulis : Muharrimin

