Kasus bayi dengan masalah gizi masih banyak terjadi di Pacitan. Selama 2 tahun terakhir persentase stunting melonjak naik. Dari 16,72 persen pada 2020, tahun ini sudah tembus 16,77 persen. “Ini menjadi masalah kita bersama, bagaimana menekan angka stunting yang hampir selalu bertambah setiap tahun,’’ ujar anggota komisi II DPRD kabupaten Pacitan, Ririn Subianti.
Ririn melihat, salah satu lokasi merebaknya kasus stunting berada di kecamatan Bandar. Dari data yang berhasil dihimpun, 259 dari 995 balita di Bandar stunting. Bahkan, 70 balita dalam kondisi tubuh yang sangat kecil. Menurutnya, angka stunting tersebut sangat berkorelasi dengan tingkat kemiskinan penduduk. Mereka yang memiliki penghasilan minim, kurang mampu memenuhi kebutuhan gizi terhadap ibu hamil dan bayi baru lahir.
“Memang tidak semua orang miskin anaknya stunting. Tapi sebagian besar stunting itu diakibatkan karena kemiskinan. Dan karena itu kemiskinan itu juga harus ditangani secara serius,” tegasnya.
Permasalahan stunting merupakan masalah serius dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Pacitan. Menurutnya stunting adalah problem multidimensional yang butuh penyelesaian secara multisektoral. Pasalnya, banyak hal yang menjadi determinan penyebab stunting. Bukan sekedar kurang makan semata.
Menurutnya, ada empat faktor yang memengaruhi derajat kesehatan seseorang, yakni gaya hidup, lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), pelayanan kesehatan, dan faktor genetik (keturunan). Keempat determinan ini saling berinteraksi dan memengarahui status kesehatan seseorang, termasuk terkait dengan kejadian stunting pada anak.
Dalam upaya mengatasi masalah stunting pada anak, Ririn mendorong peran lintas sektoral. Sebab kasus stunting disebabkan oleh banyak faktor. Dia menuturkan, dalam menangani kasus stunting dan gizi buruk, harus ada upaya intervesi gizi yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Semisal pemantapan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) danan pemantauan gizi ibu hamil.
Disisi lain, peran pemerintah melalui Dinas Sosial juga harus ditingkatkan dalam rangka membantu pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui. Tak kalah penting adalah peran pemerintah desa yang harus intens memantau warganya. Desa yang menjadi lokasi kasus stunting cukup banyak, juga perlu berinovasi. Membentuk tim ataupun kader khusus, untuk memantau perkembangan ibu hamil dan bayi baru lahir.
Penyuluhan dan edukasi tentang kecukupan gizi menjadi sangat penting. Masyarakat juga perlu diedukasi untuk menciptakan pekarangan toga. Untuk memenuhi asupan sayuran dan lauk bergizi. Langkah ini diyakini jadi alternatif solusi jangka panjang dan berkelanjutan.
“Dukungan multisektoral dari jajaran pemerintah harus semakin diperkuat. Juga memanfaatkan kearifan lokal masing-masing,’’ Pungkasnya.
