LINTAS7.NET, PACITAN – Tetabuhan kentongan menggema dari panggung Festival Ronthek Pacitan, Senin malam (7/7/25), ketika Grup Ronthek Rancak Bumbung dari Kecamatan Pringkuku menampilkan karya bertajuk “Tilas Talesan”. Pertunjukan yang digarap dengan penuh penghayatan ini sukses memukau penonton dengan narasi historis dan mitologis yang membumi.
Tilas Talesan membawa penonton menyusuri kisah masa lampau masyarakat petani di Desa Sobo, lereng Gunung Talesan. Gunung yang kini dianggap sakral itu dulunya merupakan pusat kehidupan bagi para petani talas tumbuhan yang menjadi sumber pangan utama kala itu.
Namun, harmoni itu terusik ketika celeng (babi hutan) menyerang ladang-ladang mereka. Tanaman talas rusak, dan ketahanan pangan terancam. Dalam keputusasaan, masyarakat desa mengambil kentongan alat komunikasi tradisional yang juga berfungsi sebagai pengusir hama dan membunyikannya keras-keras. Dari sinilah tradisi ronthek diyakini lahir.
Tak hanya sejarah agraris yang terangkat, pertunjukan ini juga menyentuh sisi spiritual dan mitologis. Gunung Talesan dipercaya menjadi tempat bersemayamnya Dewi Limaran, sosok gaib anak dari raja celeng, yang menjadi penanda adanya ikatan tak kasat mata antara manusia, alam, dan kekuatan kodrati.
Penampilan Grup Rancak Bumbung juga memikat secara visual. Para penampil mengenakan busana bernuansa hijau dedaunan yang melambangkan kesuburan alam dan kedekatan masyarakat dengan hutan dan ladang. Gerak tari yang enerjik, irama yang rancak, serta koreografi kentongan yang dinamis memperkuat suasana dramatik sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong warga desa.
Karya Tilas Talesan bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah pesan reflektif tentang keselarasan hidup: manusia sebagai penjaga bumi, alam sebagai sumber kehidupan, dan spiritualitas sebagai penguat batin.
“Kami ingin menunjukkan bahwa ronthek bukan hanya hiburan, tapi juga media untuk merawat ingatan dan menyuarakan nilai-nilai lokal yang nyaris terlupakan,” ujar Suwoto, Camat Pringkuku.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Desa Sobo, Bogiman, turut hadir dalam pementasan. Ia merasa terharu dengan penggambaran masa lalu yang menurutnya sangat akurat dan menyentuh.
“Saya seperti dibawa kembali ke masa kecil. Dulu benar, suara kentongan jadi alarm kalau celeng masuk ladang,” kenangnya.
Ronthek Rancak Bumbung berhasil merangkai unsur budaya, sejarah, mitos, dan visual menjadi sajian yang hidup dan menyentuh. Penonton tak hanya menikmati irama dan gerak, tetapi juga diajak merenungi jejak leluhur dan nilai-nilai kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu. (Red/Adv).






