LINTAS7.NET, PACITAN- Festival Ronthek Pacitan 2025 memasuki hari kedua. Lima grup ronthek menampilkan yang terbaik untuk mencuri perhatian dewan juri dan menghibur penonton. Satu diantaranya adalah Kecamatan Bandar.
Ronthek Kecamatan Bandar tampil cetar menarik perhatiah penonton di panggung utama. Perpaduan bunyi kentongan dan gamelan tradisional menghasilkan irama musik yang istimewa.
Kostum para pemain yang menyerupai sapi dan harimau menambah kesan baik. Ini selaras dengan tema “Lembah Lembu”. Pun, gerakan lincah para penari perempuan semakin memperkuat pesan visual dan estetika pertunjukan.
“Lembah Lembu” sendiri merupakan cerita rakyat dari Desa Kledung, Kecamatan Bandar yang mengisahkan tentabf Mbah Iro Kombor, sosok yang diyakini sebagai pepunden atau tokoh spiritual yang bermukim di Bukit Karang Gemblewang.
Dalam kisahnya, Iro Kombor memiliki kelebihan akrab dengab hewan buas dan dikenal dikeliling Poro Simo (para harimau), simbol dari kekuatan dan penjagaan alam.
“Cerita ini bukan hanya legenda, tapi menjadi identitas dan harapan masyarakat Kledung. Beternak lembu bagi mereka adalah simbol kemakmuran dan keberlangsungan hidup yang erat kaitannya dengan kelestarian alam,” kata Camat Bandar, Wuriyanto, saat diwawancarai wartawan.
Wuriyanto mengapresiasi kerja keras para seniman muda dan pelatih lokal yang terus menjaga warisan budaya daerah.
“Kami bangga, generasi muda di Kecamatan Bandar mampu mentransformasikan nilai-nilai kearifan lokal menjadi seni pertunjukan yang kuat dan penuh makna. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan agar kita tak melupakan akar budaya sendiri,” tambahnya.
Penampilan atraktif Ronthek Kecamatan Bandar mendapat sambutan hangat dari penonton. Suara tepuk tangan meriah terdengar hingga akhir pertunjukan.
Dengan keunikan tema dan kekuatan narasi lokal yang diusung, Kecamatan Bandar optimis menjadi salah satu kontestan unggulan di Festival Ronthek Pacitan 2025.(Red/Adv).






