Setelah Tiga Dekade Bersengketa, BPN Pacitan Ungkap Hasil Pemetaan Ulang Kawasan Goa Gong

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS7.NET, PACITAN – Sengketa lahan di kawasan Goa Gong yang telah berlangsung sekitar 30 tahun memasuki babak baru setelah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pacitan memaparkan hasil pemetaan ulang pada Selasa (20/5/26). Sengketa tersebut melibatkan Sutikno, Kateni, dan Pemerintah Kabupaten Pacitan.

Pengukuran ulang dilakukan atas permintaan Polres Pacitan yang dipimpin Kapolres AKBP Ayub Diponegoro. Langkah ini ditempuh agar penentuan batas tanah dilakukan secara objektif oleh lembaga yang memiliki kewenangan di bidang pertanahan.

Kegiatan pemetaan dipimpin langsung Kepala BPN Pacitan, Yuli Priyo Pangarso, bersama delapan personel BPN. Turut hadir Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro, Kasat Reskrim Polres Pacitan, Kepala Dinas Aset Kabupaten Pacitan Deni Cahyantoro, serta para pihak yang bersengketa yakni Sutikno, Kateni, Paeran, dan Soimun yang didampingi Kepala Desa Bomo, Sularno.

Dalam pemaparannya, Yuli Priyo Pangarso menjelaskan bahwa hasil pengukuran terbaru menunjukkan adanya perubahan dibandingkan peta lama. Tanah milik ayah Kateni yang sebelumnya belum tercatat kini telah masuk dalam peta hasil pemetaan terbaru.

Baca Juga :  Dokter Warkim Sutarto Bakal Luncurkan Buku Autobiografi, Program “Pacitanku Sehat”, Website Resmi, dan E-Majalah

“Berdasarkan hasil pemetaan ulang, tanah induk Goa Gong masuk dalam kepemilikan keluarga Kateni,” jelas Yuli saat menyampaikan hasil pengukuran.

Hasil tersebut juga berdampak pada perubahan luas bidang tanah masing-masing pihak. Lahan milik Paeran yang sebelumnya tercatat sekitar 2.500 meter persegi kini menjadi kurang lebih 1.900 meter persegi. Sementara lahan milik Kateni bertambah dari sekitar 2.500 meter persegi menjadi sekitar 3.400 meter persegi.

Dari hasil pemetaan itu diketahui area pintu masuk Goa Gong berada di lahan milik Paeran, sedangkan kawasan induk Goa Gong masuk dalam bidang tanah keluarga Kateni.

Meski demikian, BPN Pacitan menyebut pengukuran yang dilakukan masih terbatas pada pemetaan bidang tanah dan belum mencakup pengukuran detail keseluruhan lorong Goa Gong dari pintu masuk hingga ujung goa.

“Kami hanya melakukan pemetaan bidang tanah, belum mengukur detail panjang Goa Gong secara keseluruhan,” ujar Yuli Priyo Pangarso.

Baca Juga :  Gerak Cepat Adaptasi Kepemimpinan Baru

Usai pemaparan, seluruh pihak yang hadir dimintai tanggapan atas hasil pengukuran ulang tersebut. Semua pihak, termasuk Kepala Desa Bomo Sularno, menyatakan menerima hasil yang disampaikan BPN.

Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro mengapresiasi proses pengukuran ulang yang dilakukan BPN Pacitan serta sikap terbuka para pihak dalam menerima hasil pemetaan.

“Kami berharap persoalan Goa Gong yang sudah berlangsung puluhan tahun dapat diselesaikan melalui musyawarah. Kami siap memfasilitasi penyelesaian secara damai tanpa harus berujung di pengadilan,” ujarnya.

Harapan serupa juga disampaikan Kepala BPN Pacitan yang menilai Goa Gong merupakan aset wisata penting bagi Kabupaten Pacitan sehingga penyelesaian sengketa diharapkan dapat ditempuh secara bijaksana melalui musyawarah.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pacitan belum menentukan sikap resmi terkait hasil pemetaan terbaru tersebut. Kepala Dinas Aset Deni Cahyantoro menyampaikan hasil pengukuran dari BPN akan terlebih dahulu dilaporkan kepada Bupati Pacitan untuk memperoleh arahan lebih lanjut.

Berita Terkait

Dinkes Pacitan Perkuat Layanan Ibu dan Anak, Gandeng Dokter Spesialis
Demokrat Luncurkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Targetkan 666 Aksi Sosial-Lingkungan hingga Akhir Agustus
Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan
Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta
RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini
Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026
DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja
DBHCHT 2026: Pemkab Pacitan Alokasikan Rp700 Juta untuk Pelatihan Petani dan Buruh Tembakau

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 21:59 WIB

Dinkes Pacitan Perkuat Layanan Ibu dan Anak, Gandeng Dokter Spesialis

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:36 WIB

Demokrat Luncurkan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, Targetkan 666 Aksi Sosial-Lingkungan hingga Akhir Agustus

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:33 WIB

Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:33 WIB

Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:35 WIB

RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini

Berita Terbaru