Menilik Kesuksesan Desa Petungsinarang Mengatasi Kekeringan

- Jurnalis

Kamis, 17 Oktober 2024 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suryadi, Kades Petungsinarang perlihatkan air jaringan rumah mengalir deras. (Foto : Lintas7.net).

Suryadi, Kades Petungsinarang perlihatkan air jaringan rumah mengalir deras. (Foto : Lintas7.net).

LINTAS7.NET,PACITAN –Kekeringan selalu jadi persoalan yang dihadapi masyarakat di Kabupaten Pacitan saat musim kemarau panjang tiba. Tak terkecuali, warga Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar. Warga di 5 wilayah dusun selalu kesulitan memperoleh pasokan air bersih. Masalah klasik ini diakui oleh Suryadi, Kepala Desa Petungsinarang sebagai tantangan bagi pemerintahannya.

Seiring waktu, upaya pengentasan kekeringan pemerintah desa setempat mulai menampakkan hasil. Kegigihan seluruh elemen masyarakat desa, secara perlahan mampu mengurai masalah kekeringan.  “Sebelum tahun 2022, warga kami harus membeli air seharga Rp 100 ribu untuk mencukupi kebutuhan. Dan Allhamdulillah saat ini, program pengentasan kekeringan yang menjadi prioritas pemerintah desa membuahkan hasil. Warga tak lagi bersusah payah untuk bisa mendapatkan air,” kata Suryadi kepada wartawan.

Suryadi, menegaskan penanganan kekeringan parah di desanya melibatkan semua pihak. Pemerintah desa, kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat. Memanfaatkan sumber mata air tak terbatas, pemerintahannya memaksimalkan program pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur penyediaan air bersih seperti sumur bor, bangunan penampung air serta jaringan distribusi air dengan baik. Hasilnya, saat ini warga sudah tak perlu lagi mengantri ataupun membeli air kecuali dalam situasi tertentu seperti hajatan.

Baca Juga :  Perpaduan Seni dan Filosofi Hidup Petani Disajikan Epik Rontek Garu Bumi Donorojo

“Saat ini sudah cukup untuk seluruh warga, meski masih menggunakan sistem giliran,” paparnya.

Pasokan air, lanjut Suryadi, berasal dari sumber mata air Nginuman yang dialirkan ke bak penampungan di Dusun Krajan yang berjarak sekitar 800 meter. Air dalam tampungan itu kemudian didistribusikan ke tiap rumah warga.

“Sebagian masih bergiliran setiap sore, namun hal ini sudah cukup memenuhi kebutuhan seluruh warga. Tiap keluarga hanya dibebani biaya Rp 10 ribu untuk 1.200 liter air,” jelas kepala desa tiga periode tersebut.

Sejumlah warga desa mengapresiasi perhatian pemerintah pada semua tingkatan atas upaya mengatasi persoalan krisis air. Kendatipun belum sempurna, setidaknya warga tak lagi kesusahan mencukupi kebutuhan air.

“Dulu susah kalau sudah kemarau seperti ini, harus membeli air pas punya uang. Kalau tidak ada (uang) ya cari ke sumber air, itupun hampir seharian dapatnya. Sekarang sudah enak, tidak perlu repot-repot mengambil ke sumber yang jaraknya cukup jauh,” kata Sukat, seorang warga di Petungsinarang.

Baca Juga :  Angin Kencang di Pacitan Rusak Belasan Bangunan Rumah Warga

Giyem, warga lainnya, mengaku pasokan air ke rumahnya belum sepenuhnya sempurna karena harus bergantian dengan penduduk lainnya. Akan tetapi, ketersediaan air saat ini menurutnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga.

“Mengalirnya kan bergantian jadi harus pakai bak penampungan. Airnya ditampung dulu, jadi tidak akan kehabisan,” ujar Giyem.

Keberhasilan mengatasi masalah krisis air ini menjadi sebuah capaian yang tak ternilai. Ini karena air merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Capaian ini sekaligus melepas status Desa Petungsinarang, sebagai desa peringkat pertama rawan kekeringan kritis di Pacitan. Kerja keras dan komitmen pemerintah desa pun sangat pantas diapresiasi. (is/red/adv).

Berita Terkait

Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan
Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta
RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini
Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026
DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja
DBHCHT 2026: Pemkab Pacitan Alokasikan Rp700 Juta untuk Pelatihan Petani dan Buruh Tembakau
Pacitan Targetkan Perluasan Tembakau 513 Hektare, Ratusan Kelompok Tani Dapat Bantuan DBHCHT
Satpol PP Pacitan Bersama Tim Gabungan Berhasil Temukan Rokok Tanpa Pita Cukai Resmi Di Kecamatan Sudimoro

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:33 WIB

Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:33 WIB

Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:35 WIB

RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:51 WIB

Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:51 WIB

DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja

Berita Terbaru