LINTAS7.NET, PONOROGO- Sempat mati suri selama lebih dari 30 tahun, seni pentas drama tradisional ketoprak dengan grup dahono wengker reborn, kini kembali muncul di panggung utama alon alon Ponorogo Jumat malam (8/8).
Kesenian yang lama hilang dan terkesan mati suri ini, kini kembali dihidupkan pemerintah daerah. Kesenian asli pulau Jawa yang sempat eksis diera tahun 80 an, kembali ditampilkan dalam rangkaian hari jadi Kabupaten Ponorogo ke 529 tahun.
Ketoprak yang disutradarai langsung oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, ini mengambil judul sumilaking mendung temayung, mengusung berbagai keberagaman. Meski fiksi, namun cerita dibalik kesenian ini mengandung banyak makna. Mulai dari perjuangan, strategi perang, kisah cinta hingga pelajaran hidup.
Meski sudah lama hilang, namun kesenian ini masih mengundang banyak antusias warga. Para penonton mengaku senang bisa melihat kesenian yang lama hilang. Mereka bisa bernostalgia di masa kecil. ‘’Ketoprak ini mengingatkan saya di tahun 80-an jadi saya itu masih kecil kemudian ini ada lagi cerita yang menggambarkan damar Wulan ngarit ini sangat terngiang-ngiang pada waktu itu,’’ jelas Sumarno, salah satu penonton.
Untuk menanamkan kecintaan terhadap kesenian tradisional. Layout dan tampilan dibuat sedikit modern. Jika dulunya memakai kain sebagai baground, kini menggunakan videotron. Termasuk memasang klip on untuk setiap pemain.
‘’Ketoprak dulu memang bagus pernah kondang pernah digemari masyarakat dan hampir semua ketoprak di Indonesia sudah mengalami lesu, maka kita bertanggung jawab untuk membangkitkan. Dahono wengker ini dulu kondangnya setengah mati rame dan bagus-bagus nah sekarang kita bangkitkan kembali kita kombinasi ada gen Z,’’ tutur Bupati sekaligus Sutradara, Sugiri Sancoko.
Rencananya, pemerintah akan kerap menggelar pentas ketoprak dengan melibatkan anak anak muda demi menghidupkan kembali kesenian yang sudah lama hilang dan ditinggalkan. (adv/rc)






