Ronthek Pring Sedhapur Tulakan Bawa Pesan Hindari Keserakahan

- Jurnalis

Selasa, 8 Juli 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penampilan grup ronthek Pring Sedhapur Kecamatan Tulakan, Senin (7/7) malam. (Foto : Lintas7.net).

Penampilan grup ronthek Pring Sedhapur Kecamatan Tulakan, Senin (7/7) malam. (Foto : Lintas7.net).

LINTAS7.NET, PACITAN – Festival Ronthek Pacitan 2025 makin meriah di hari ketiga Senin (7/7) malam. Kreativitas berkesenian hingga tebar pesan moral kehidupan jadi sajian festival ronthek malam terakhir.

Satu diantaranya adalah pesan moral grup ronthek Pring Sedhapur Kecamatan Tulakan. Peserta yang satu ini mengusung tema Grahana Bulan (Gerhana Bulan), sebuah peristiwa astronomis yang dijumpai dalam kehidupan dunia.

Gerhana umumnya terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Di balik bayang gelap yang menutup hamparan satelit bumi itu meninggalkan mitos di kalangan masyarakat Jawa.

Cerita itu kerap menjadi dongeng sebelum tidur yang menggambarkan keserakahan raksasa hendak menelan bulan. Di antara keresahan akan datangnya kegelapan akibat ulah kuasa jahat, seluruh warga desa lantas mengambil kentongan.

Sarana yang lazim menjadi tengara marabahaya itu dipukul serempak dan bertalu-talu. Bunyinya membahana, menembus kolong langit hingga menghunjam masuk ke telinga sang raksasa hingga diurungkanlah niat menelan rembulan.

“Legenda itu sudah kami kenal sejak nenek moyang. Tentu saja ada pesan tersirat dari bahasa tutur tersebut. Kami berusaha menggalinya, lalu kami tuangkan dalam seni rontek,” tutur Tri Susila, Kepala Desa Bungur, pencetus ide serita sekaligus perancang gerak grup ronthek ‘Pring Sedhapur’.

Baca Juga :  Tilang Elektronik, Elektronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Mulai Diberlakukan di Pacitan

Jika berkaca pada realitas kehidupan, cerita tentang gerhana bulan terasa masih sangat relevan. Sifat serakah yang digambarkan dengan watak raksasa senantiasa berhadapan dengan kebajikan yang menjadi nilai dasar insani. Keduanya akan tetap ada serta saling mengalahkan satu sama lain. Adalah kewajiban manusia merawat keutamaan sekaligus melawan kemungkaran.

“Terkadang satu orang berbuat baik terkesan kurang bermakna. Lain halnya  jika dilakukan bersama-sama seperti halnya tergambar dalam adegan ronthek. Kerap kali baik hasilnya,” papar Tri Susila filosofis.

Awalnya terkesan biasa saja. Namun begitu puluhan pemuda menampilkan adegan atraktif, ribuan pasang mata terpukau. Ada pula yang berbisik dengan penonton lain di sampingnya. Decak kagum beriring gemuruh tepuk tangan terasa memenuhi seantero sudut alun-alun tiap akhir segmen tampilan.

Harmoni pukulan musik bambu berpadu kostum para pemain menjadikan ‘Pring Sedhapur’ tontonan yang menghibur. Belum lagi aneka properti khas wilayah pedesaan kian melangkapi kesan elegan namun tetap menjaga orisinalitas. Sama antusiasnya dengan audiens di depan pos pertama, penonton di pos kedua dan ketiga juga tak beringsut hingga tampilan kelar.

Baca Juga :  Pemkab Pacitan Gelar Konsultasi Publik RPJMD untuk 20 Tahun Mendatang

Sentuhan tangan dingin para seniman muda Tulakan membuat penampilan ronthek ‘Pring Sedhapur’ istimewa. Sebut saja nama-nama seperti Roni Cahyono yang bertindak sebagai koreografer, Nopi Nopek yang selama ini dikenal spesialis ronthek, serta Bayu Triaji dan Putut Pranadipta. Dua nama terakhir mendapat amanah membina karawitan dan tari.

Camat Tulakan Djoko Harijanto mengaku bangga atas tingginya semangat warganya melestarikan tradisi ronthek. Dirinya melihat cukup banyak talenta seni dari wilayah yang dipimpinnya. Festival Ronthek Pacitan yang rutin digelar pemerintah kabupaten, lanjutnya, memberi kesempatan bangkitnya kreativitas para seniman untuk unjuk kebolehan menuangkan karya.

Tentu saja hal itu tak lepas dari prakarsa Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji yang menginginkan kebangkitan seni Pacitan melalui event-event budaya. Hal itu bakal memperkaya khazanah pariwisata surga tersembunyi di bibir Samudera Indonesia yang kini memiliki tagline ’70-Mile Sea Paradise.

“Tentu saja kami turut bangga dengan program-program beliau (bupati) terutama dalam upaya menggali bakat-bakat seni dari wilayah. Siapa yang tak ingin jadi juara, tapi di atas semua itu adalah kontribusi kita untuk Pacitan tercinta,” pungkasnya.

Berita Terkait

PLN Nusantara Power UP Pacitan Gandeng Kejari, Perkuat Penanganan Hukum Perdata dan TUN
Bakorwil III Malang Terima Keris Pusaka Presiden Prabowo Dan Menteri Kebudayaan, Tandai Perayaan Hari Keris Nasional 2026
PLN NP UP Pacitan dan Warga Kembangkan Agrowisata Alpukat Berbasis Lingkungan di Sudimoro
Soal Sumbangan Komite, Kadindik Pacitan: “Jer Basuki Mawa Beya, Demi Pendidikan Lebih Baik”
Data Pribadi di Ujung Jari, Ancaman Nyata di Balik Pinjol Ilegal
Jelang Ramadan 1447 H, Polres Pacitan Sidak Pasar dan Agen LPG, Pastikan Harga Stabil dan Stok Aman
Hari Jadi Pacitan ke-281, Dinkes Hadirkan Cek Kesehatan Gratis dan Rumah Terapi
FPPA dan Pemkab Kompak Jaga Kebersihan, Wabup Pacitan Gagas OPD Bertanggung Jawab Kelola Pantai

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 17:06 WIB

PLN Nusantara Power UP Pacitan Gandeng Kejari, Perkuat Penanganan Hukum Perdata dan TUN

Sabtu, 18 April 2026 - 19:52 WIB

Bakorwil III Malang Terima Keris Pusaka Presiden Prabowo Dan Menteri Kebudayaan, Tandai Perayaan Hari Keris Nasional 2026

Kamis, 16 April 2026 - 19:50 WIB

PLN NP UP Pacitan dan Warga Kembangkan Agrowisata Alpukat Berbasis Lingkungan di Sudimoro

Jumat, 13 Maret 2026 - 20:15 WIB

Soal Sumbangan Komite, Kadindik Pacitan: “Jer Basuki Mawa Beya, Demi Pendidikan Lebih Baik”

Rabu, 4 Maret 2026 - 11:36 WIB

Data Pribadi di Ujung Jari, Ancaman Nyata di Balik Pinjol Ilegal

Berita Terbaru