LINTAS7.NET, PACITAN – Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, menggelar pelatihan pembentukan dan peningkatan kapasitas Kelurahan Siaga Bencana selama lima hari. Kegiatan ini didukung PLN dan BPBD Pacitan dengan fokus utama pada pelibatan kelompok rentan dalam menghadapi bencana.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin tidak lagi dipandang hanya sebagai objek yang harus diselamatkan. Mereka didorong menjadi bagian aktif dalam kesiapsiagaan dan proses evakuasi.
Salah satu fokus pelatihan adalah bagaimana kelompok rentan memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelamatkan diri secara mandiri ketika bencana terjadi. Mereka diharapkan memahami risiko, mengetahui jalur evakuasi dan menuju titik pengungsian tanpa harus selalu menunggu tim penyelamat.
“Kelompok rentan ini bukan sekadar objek penyelamatan. Kita mencoba mengidentifikasi kemampuan mereka agar bisa ikut meringankan proses evakuasi,” ujar Indar Siswoyo Fasilitator kegiatan Peningkatan kapasitas desa siaga bencana PLN 2026. Selasa (8/9/2026).
Lurah Ploso, Aditya Aji Atmanta mengatakan, wilayahnya memiliki potensi berbagai bencana sehingga edukasi dan pelatihan kebencanaan sangat penting bagi masyarakat.
“Kelurahan Ploso kalau kita lihat dari peta memang masuk zona merah secara keseluruhan. Jadi memang butuh edukasi ataupun pelatihan kaitannya dengan mitigasi bencana,” ujarnya.
Ia berharap peserta pelatihan dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat, sehingga warga lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Selain tsunami, pelatihan juga membahas ancaman gempa bumi, banjir, hingga bencana biologi dan kesehatan. Dalam forum diskusi, kelompok rentan menjadi perhatian khusus agar memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelamatkan diri secara lebih mandiri.
“Kelompok-kelompok disabilitas ataupun kaum rentan sebenarnya perlu mendapatkan perhatian lebih khusus. Melalui pelatihan ini, penanganan terhadap kaum rentan sudah mulai diarahkan,” katanya.
Rangkaian kegiatan tersebut akan ditutup dengan simulasi evakuasi secara menyeluruh sebagai bentuk penerapan kesiapsiagaan bencana yang inklusif.(tri)






