Ronthek Laras HONOCOROKO Angkat Sejarah Kradenan, Penampilan Sarat Makna di Festival Ronthek Pacitan 2025

- Jurnalis

Selasa, 8 Juli 2025 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS7.NET, PACITAN – Meski tampil di penghujung acara, Ronthek Laras HONOCOROKO dari Kecamatan Pacitan sukses mencuri perhatian penonton di malam terakhir Festival Ronthek Pacitan 2025, Senin (7/7/25). Mengusung tema “Asal Muasal Dusun Kradenan Desa Bangunsari”, mereka menghadirkan pertunjukan yang bukan sekadar hiburan, melainkan juga penelusuran sejarah dan spiritualitas lokal yang menyentuh.

Sejak ketukan pertama kentongan terdengar, atmosfer magis langsung menyelimuti panggung. Deru ritmis ronthek paduan kentongan bambu, kenong, gong, dan bunyi-bunyian tradisional lainnya membangun suasana mistis yang menghantar penonton menelusuri lorong-lorong waktu. Irama gamelan laras pelog yang mengalun lirih lalu mengeras, seolah menandai perjalanan berat Mbah Raden menembus belantara Wengker Kidul.

Para penari tampil dalam balutan kostum khas kerajaan Mataram abad ke-18. Busana dominan warna cokelat tanah dan hitam, dihiasi aksen emas dan batik motif parang, memunculkan kesan agung sekaligus bersahaja. Di antara mereka, sosok Mbah Raden digambarkan oleh seorang pria dengan jubah hitam dan blangkon hitam kuning, membawa tongkat simbol spiritualitas dan kepemimpinan.

Baca Juga :  Sambut Pilkada dengan Riang Gembira, Tim Relawan Indrata Nur Bayuaji - Gagarin Sumrambah Siap Maksimalkan Suara di Setiap TPS 

Adegan perjalanan penuh rintangan disampaikan melalui tarian ekspresif yang menggambarkan ketegangan dan kekhawatiran. Gerakan tari yang dinamis diiringi efek cahaya remang-remang menciptakan sensasi mistik, ditambah efek asap tipis yang mengepul dari belakang panggung menambah kesan magis seolah penonton diajak menyusuri hutan angker bersama tokoh utama.

Di tengah pertunjukan, irama ronthek tiba-tiba melambat dan berganti menjadi alunan lirih gamelan, menggambarkan suasana kontemplatif ketika Mbah Raden tiba di tempat yang kelak bernama Bangunsari. Narasi mengenai Watu Lawang disampaikan dalam kidung berbahasa Jawa, dengan latar visual batu besar yang diproyeksikan pada layar, memperkuat kesan sakral.

“Beliau bukan hanya seorang tokoh spiritual, tapi juga pembawa budaya,” ungkap Camat Pacitan, Sugiyem. Ia menuturkan bahwa Mbah Raden menghidupkan tradisi gamelan di tempat bernama Watu Lawang, sebuah batu besar berlubang seperti pintu yang diyakini menjadi tempat gamelan gaib. Konon, suara gamelan hanya terdengar saat malam tiba.

Baca Juga :  Mengadu ke Bupati, Pedagang Minta Penundaan Eksekusi Lahan Pasar Tulakan

Namun, legenda ini berubah ketika alat gamelan yang dipinjam dari tempat itu tidak dikembalikan utuh. Sejak kejadian itu, pintu Watu Lawang diyakini tertutup secara gaib, dan suara gamelan tak pernah terdengar lagi hingga sekarang.

Seniman Pacitan, Aminudin Sastropawiro, mengapresiasi penampilan Laras HONOCOROKO. “Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi pelestarian budaya yang menyampaikan pelajaran sejarah dan spiritualitas. Inilah esensi festival membumikan budaya melalui cara yang kontekstual dan bermakna,” ujarnya.

Sebelum wafat, Mbah Raden mewariskan pesan agar wilayah tempat tinggalnya dinamai Kradenan, sebuah nama yang kini menjadi identitas dusun di Desa Bangunsari. Nama itu menjadi simbol bahwa sejarah dan kearifan lokal tetap hidup dalam memori dan budaya warga.

Melalui kreativitas dan semangat pelestarian seni, Grup Ronthek Laras HONOCOROKO berhasil mengangkat kembali kisah yang nyaris terlupakan, menjadikan panggung ronthek sebagai media edukasi budaya yang hidup bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. (Red/Adv).

Berita Terkait

Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan
Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta
RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini
Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026
DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja
DBHCHT 2026: Pemkab Pacitan Alokasikan Rp700 Juta untuk Pelatihan Petani dan Buruh Tembakau
Pacitan Targetkan Perluasan Tembakau 513 Hektare, Ratusan Kelompok Tani Dapat Bantuan DBHCHT
Satpol PP Pacitan Bersama Tim Gabungan Berhasil Temukan Rokok Tanpa Pita Cukai Resmi Di Kecamatan Sudimoro

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:33 WIB

Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:33 WIB

Keaktifan JKN Pacitan Tembus 74 Persen, BPJS Kesehatan Pacu Perburuan 21 Ribu Peserta

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:35 WIB

RSUD dr Darsono Pacitan Kantongi Rp8 Miliar DBHCHT 2026, Gedung Rawat Jalan Tahap III Ditarget Rampung Tahun Ini

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:51 WIB

Tak Ingin Salah Sasaran, Dinsos Pacitan Libatkan Desa dan OPD dalam Pendataan BLT DBHCHT 2026

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:51 WIB

DBHCHT Pacitan 2026 Bantu Kesejahteraan Buruh Tani Tembakau, Bariyanto Tetap Produktif di Usia Senja

Berita Terbaru