Pasar Krempyeng Desa Sukoharjo Jejak Tradisi di Tengah Gempuran Modernisasi, Paduan Budaya dan Kesenian Gamelan Kaca

- Jurnalis

Minggu, 3 November 2024 - 10:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS7.NET, PACITAN – Di tengah hingar-bingar toko modern dan pusat perbelanjaan yang mulai menjamur, Pasar Beling Minggu Wage di Dusun Nitikan Desa Sukoharjo Kecamatan Pacitan, tetap menjadi magnet bagi masyarakat. Setiap pasaran Minggu Wage, pasar ini menjadi ajang bertemunya para pedagang dan pembeli, menghidupkan kembali suasana yang sarat akan kehangatan dan nostalgia.

Saat memasuki pasar, pengunjung disambut oleh keramaian suara tawar-menawar dan aroma menggugah selera dari berbagai jajanan tradisional. Di sini, dapat menemukan lopis, jongkong, cenil berwarna-warni, jenang yang kenyal, tiwul, jadah bakar, dawet segar gula jawa, kupat tahu, dan lontong pecel, sego berkat, semuanya menggugah ingatan akan masa kecil.

Ibu Mariyati, salah satu pedagang berusia lanjut, menjelaskan, “Kami ingin mengenalkan makanan tradisional kepada generasi muda. Di pasar ini, mereka bisa merasakan rasa asli kuliner kita tempo dulu,” ujarnya, Minggu (3/11/24).

Pasar Krempyeng bukan hanya sekadar tempat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, lebih dari itu, ini adalah jantung kehidupan sosial masyarakat. Banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk bersosialisasi, berbagi cerita, dan menikmati suasana kekeluargaan.

“Ini tempat di mana kami bisa bertemu dan berbagi. Banyak yang sudah saling kenal,” ungkap Bapak Gatot salah satu pengunjung setia.

Pasar Krempyeng, sebuah destinasi unik di daerah ini, menawarkan pengalaman berbelanja yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengedukasi. Pengunjung pasar ini disuguhi keindahan seni tradisional gamelan yang menggunakan bahan beling atau kaca, menciptakan suara yang khas dan menarik.

Baca Juga :  Pacitan Raih Penghargaan Inovasi Daerah dan Inovasi Teknologi dari BRIDA Jawa Timur

Kesenian gamelan kaca ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal, di mana para seniman memadukan elemen tradisional dengan inovasi modern. Penampilan gamelan ini menjadi daya tarik tersendiri, menambah suasana pasar yang berbeda.

“Dengan berbagai produk lokal yang ditawarkan, seperti kerajinan tangan dan makanan khas, Pasar Krempyeng bukan hanya tempat untuk berbelanja, tetapi juga untuk menikmati kekayaan budaya. Para pengunjung dapat merasakan atmosfer yang hidup, di mana seni dan perdagangan bertemu dalam harmoni yang indah,” kata Amin Sastrowijoyo pelestari budaya desa.

Pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai wadah untuk melestarikan dan mempromosikan seni dan budaya lokal, menjadikannya salah satu tempat yang wajib dikunjungi.

Keberadaan pasar ini juga memberikan peluang bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan harga yang bersaing dan kualitas produk yang terjamin, para petani dan produsen lokal dapat menjual hasil mereka secara langsung kepada konsumen. Hal ini tidak hanya membantu perekonomian lokal tetapi juga mendukung keberlanjutan produk lokal.

Baca Juga :  Destinasi Baru Watu Rumpuk, Tingkatkan Ekonomi Rakyat

“Saya bisa menjual sayuran segar hasil panen sendiri di sini, dan itu sangat membantu keluarga saya,” ujar Ibu Siti, petani lombok setempat.

Pemerintah desa pun berupaya untuk menjaga kelestarian pasar ini melalui program-program pengembangan.

“Kami menyadari pentingnya pasar tradisional sebagai bagian dari identitas budaya. Kami ingin memastikan bahwa Pasar Krempyeng tetap eksis dan berkembang,” jelas Kepala Desa Sukoharjo.

Walau demikian, Pasar Krempyeng tidak lepas dari tantangan. Persaingan dengan supermarket modern dan tren belanja online membuat pasar ini harus beradaptasi. Namun, pesona tradisional dan keakraban yang ditawarkan tidak dapat ditandingi oleh toko-toko modern. Bagi banyak orang, berbelanja di Pasar Krempyeng adalah tentang pengalaman, bukan sekadar transaksi.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya produk lokal dan kuliner tradisional, masa depan Pasar Krempyeng terlihat cerah. Ia berdiri sebagai simbol ketahanan tradisi, memberikan harapan bahwa nilai-nilai lokal dapat bertahan di tengah arus modernisasi.

Pasar ini adalah lebih dari sekadar tempat berbelanja, ia adalah tempat di mana budaya dan komunitas berkumpul, saling berbagi, dan merayakan warisan yang tak ternilai. Bagi banyak orang, Pasar Krempyeng adalah rumah tempat di mana mereka bisa merasakan kehangatan komunitas dan kelezatan kuliner yang tak lekang oleh waktu. (red/adv)

Berita Terkait

Khofifah Kembali ke Pacitan, Bantu Warga dari Sektor Sosial hingga Infrastruktur
Pengukuhan Pengurus FPPA di Yogyakarta, Perkuat Solidaritas dan Sinergi dengan Pemerintah
ARPAC Salurkan 35 Tangki Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Tikus Makin Meresahkan Saat Kemarau, Dinkes Pacitan Ingatkan Bahaya Hantavirus
Pantai Nggeben, Pesona Pesisir Donorojo yang Berpotensi Jadi Destinasi Wisata
Irigasi Modern Berbasis Energi Bersih Hadir di Desa Menadi, Pacitan Perkuat Pertanian Desa
PUPR Pacitan Survei Potensi Debit Air Luweng Banyu, Siapkan Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Warga
Perkuat Sistem Tanggap Darurat, Dinkes Pacitan Siapkan Rencana Kontingensi Tsunami

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Khofifah Kembali ke Pacitan, Bantu Warga dari Sektor Sosial hingga Infrastruktur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:26 WIB

Pengukuhan Pengurus FPPA di Yogyakarta, Perkuat Solidaritas dan Sinergi dengan Pemerintah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:40 WIB

ARPAC Salurkan 35 Tangki Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:26 WIB

Tikus Makin Meresahkan Saat Kemarau, Dinkes Pacitan Ingatkan Bahaya Hantavirus

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Irigasi Modern Berbasis Energi Bersih Hadir di Desa Menadi, Pacitan Perkuat Pertanian Desa

Berita Terbaru