LINTAS7.NET, PACITAN – Di tengah menjamurnya toko modern dan pusat perbelanjaan, Pasar Beling Minggu Wage atau yang dikenal sebagai Pasar Krempyeng di Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, tetap bertahan sebagai magnet masyarakat. Setiap pasaran Minggu Wage, pasar ini selalu ramai dipadati pengunjung yang rindu suasana hangat dan nuansa tempo dulu.
Sejak memasuki area pasar, pengunjung disambut hiruk-pikuk tawar-menawar serta aroma menggoda dari beragam jajanan tradisional. Aneka kuliner khas seperti lopis, jongkong, cenil warna-warni, jenang, tiwul, jadah bakar, dawet gula jawa, kupat tahu, lontong pecel hingga sego berkat menjadi sajian yang membangkitkan nostalgia masa kecil.
Salah satu pedagang, Ibu Mariyati, mengatakan keberadaan Pasar Krempyeng menjadi sarana mengenalkan kuliner tradisional kepada generasi muda.
“Di sini anak-anak muda bisa merasakan cita rasa asli makanan tempo dulu yang mulai jarang ditemui,” ujarnya, Minggu (25/1/26).
Tak sekadar tempat transaksi jual beli, Pasar Krempyeng juga menjadi pusat interaksi sosial warga. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga bersilaturahmi dan berbagi cerita.
“Di sini kami bisa bertemu dan bercengkerama, banyak yang sudah saling kenal,” kata Gatot, salah satu pengunjung setia.
Keunikan lain Pasar Krempyeng terletak pada sajian seni tradisionalnya. Pengunjung disuguhi penampilan gamelan beling atau gamelan kaca yang menghasilkan bunyi khas dan unik. Kesenian ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dengan memadukan unsur tradisional dan inovasi.
Pelestari budaya Desa Sukoharjo, Amin Sastrowijoyo, menyebut pasar ini sebagai ruang pertemuan seni dan perdagangan.
“Dengan produk lokal, kerajinan tangan, dan pertunjukan seni, Pasar Krempyeng bukan hanya tempat belanja, tetapi juga ruang edukasi budaya,” ungkapnya.
Keberadaan pasar ini juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku usaha kecil dan petani lokal. Mereka dapat menjual hasil panen langsung kepada konsumen dengan harga bersaing.
“Saya bisa menjual sayuran segar hasil panen sendiri di sini, sangat membantu ekonomi keluarga,” tutur Ibu Siti, petani cabai setempat.
Pemerintah Desa Sukoharjo pun berkomitmen menjaga keberlangsungan Pasar Krempyeng.
“Kami menyadari pasar tradisional adalah bagian dari identitas budaya desa. Pasar ini harus tetap lestari dan berkembang,” ujar Kepala Desa Sukoharjo.
Meski menghadapi tantangan dari pasar modern dan tren belanja daring, pesona keakraban dan nilai tradisi Pasar Krempyeng tetap menjadi daya tarik utama. Bagi masyarakat, berbelanja di pasar ini bukan sekadar transaksi, melainkan sebuah pengalaman budaya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk lokal dan kuliner tradisional, Pasar Krempyeng diyakini akan terus bertahan sebagai simbol ketahanan tradisi. Lebih dari sekadar pasar, ia menjadi rumah bagi budaya, komunitas, dan warisan lokal yang tak lekang oleh waktu.






