USAI memastikan silaturahmi lebaran cukup, saya berangkat ke Surabaya. Memenuhi panggilan seleksi kesehatan. Saya berangkat Senin (15/4). Seperti biasa, nyetir sendirian. Sebab, jadwal seleksi kesehatan dimulai Selasa (16/4) pagi. Jelang sore saya berangkat. Tujuan saya ke Hotel Pop Diponegoro, tak jauh dari RS Tk III Brawijaya TNI AD, lokasi tes kesehatan yang sudah ditetapkan.
Pagi hari, Selasa (16/4), seluruh peserta dibariskan sesuai kabupaten/kota masing-masing. Registrasi. Setelahnya, kami bergiliran menuju poli sesuai tahapan tes kesehatan. Hari itu, beberapa poli kami datangi. Urutannya adalah tes kesehatan mulut; telinga hidung tenggorokan (THT); tensi; gigi; paru-paru; syaraf; USG sekitar perut; hingga tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) atau tes psikologi untuk mengukur kepribadian dan psikopatologi, dengan menjawab ratusan pertanyaan-pertanyaan. Hari pertama selesai.
Di hari kedua, tes kesehatan berlanjut dengan tes ECG (Electrocardiogram) atau perekaman aktivitas listrik jantung; berlanjut dengan tes audiometri, hingga cek darah di laboratorium. Hingga menyisakan satu tes lagi, yakni wawancara MMPI. Sayangnya, wawancara ini tidak bisa langsung dilakukan. Tidak pula bisa dilakukan keesokan harinya, tetapi lusa. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Pacitan.

Sehari di Pacitan, lumayan untuk bisa mempersiapkan bekal seleksi tahap berikutnya. Sebab, selain ada wawancara MMPI, dijadwalkan pula wawancara dengan Timsel di akhir pekannya.
Jumat (19/4) dini hari, saya berangkat ke Surabaya lagi. Kali ini tidak sendirian. Saya bersama beberapa rekan yang juga turut seleksi. Yakni Andhang Setyatmoko, Imron Prawito dan Kris Arifianto. Berempat kami berangkat dini hari ke Surabaya. Sebelum ke lokasi, kami mampir sejenak di Masjid Baitul Haq Kejaksaan Tinggi Jatim untuk numpang ganti baju. Hingga akhirnya kami pun hadir dan siap memenuhi panggilan tes MMPI.
Ternyata, jadwal tes kami dilakukan usai salat Jumat. Lumayanlah, tidak terburu-buru. Tes ini mengharuskan kami berhadapan dengan psikolog. Psikolog ini membawa bekal hasil tes tulis MMPI yang sudah dikerjakan lusa sebelumnya. Bersyukur, tidak banyak yang harus ditegaskan dari saya terkait kondisi kejiwaan saya.
Usai tes wawancara MMPI, kami semua berpencar. Tidak pulang ke Pacitan. Sebab, Minggu (21/4) kami terjadwal untuk tes wawancara dengan Timsel. Saya mencari penginapan yang tidak jauh dari lokasi wawancara. Di d’Prima Hotel, daerah Jemursari.
Longgar seharian di Surabaya, saya manfaatkan untuk istirahat. Dengan harapan, siap berhadapan dengan sejumlah pertanyaan dari Timsel di hari Minggunya. Sabtu (20/4) itu, saya sempat keluar sejenak di Surabaya. Melihat situasi Grand City. Bagaimana aktivitas warga ibu kota provinsi ini. Meski demikian, seluruh aktivitas yang saya lakukan, tidak ada kaitannya dengan kedinasan saya di KPU Pacitan. Semua saya lakukan secara pribadi. Kebetulan saat itu juga akhir pekan. Sehingga waktu libur dari pekerjaan.
Hari Minggu tiba. Sejak pagi, saya sudah bersiap di Hotel Novotel Samator Surabaya, tempat seleksi wawancara Timsel dilakukan. Teman-teman juga mulai berdatangan. Rupanya, antrean wawancara ini berdasarkan abjad. Saya dapat urutan keempat.
Dengan beragam kegiatan yang telah saya lakukan selama lima tahun terakhir, saya memiliki kemantapan untuk menghadapi tahapan ini. Terutama hal-hal yang telah saya lakukan untuk lembaga KPU dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kepemiluan.
Di arena wawancara, saya memperkenalkan diri dengan menyampaikan rekam jejak singkat. Selanjutnya sejumlah pertanyaan dilontarkan dari seluruh Timsel. Saya mendapatkan contoh kasus terkait kultur politik di Kabupaten Pacitan yang notabene merupakan tanah kelahiran Presiden RI ke-7 Susilo Bambang Yudhoyono.
Saya awali dengan mengemukakan realita, dan menekankan bahwa posisi KPU Pacitan selama pengalaman saya lima tahun terakhir berkutat di dalamnya, memiliki ruang gerak yang leluasa. Terutama dalam memberikan edukasi demokrasi kepada masyarakat. Tanpa adanya intervensi atau sempitnya ruang gerak dari pihak-pihak tertentu. Sosiologi masyarakat Pacitan yang mengedepankan budaya ketimuran, menjadikan kami dapat menjamin terwujudnya integritas dalam setiap tugas yang dilakukan oleh KPU Pacitan.
Beberapa pertanyaan lain pun terlontar. Dan bersyukur, saya juga bisa menjawabnya. Tidak ada pula tanggapan masyarakat untuk saya. Kurang lebih 12 menit saya berada di ruang wawancara Timsel tersebut.
Wawancara berakhir, saya siap kembali ke Pacitan. Kali ini nyetirnya tidak sendirian. Saya ditemani Imron Prawito dan dibantu nyetir oleh Kris Arifianto. Lumayan, untuk kali ini, tidak lagi sendirian di perjalanan.
Sebelum saya akhiri tulisan edisi ini, untuk kegiatan terkait KPU Pacitan, pada sepekan terakhir diadakan Rakornas berkaitan dengan badan adhoc di Jakarta. Teman-teman sekretariat KPU Pacitan yang hadir memenuhi undangan tersebut. (*)
Tulisan ke-91/Edisi 15-21 April 2024






