Menu

Mode Gelap
Jembatan Borang Runtuh Saat Perbaikan, 2 ASN Luka-luka Gapoktan Desa Slambur Ciptakan Pestisida Ramah Lingkungan  Senyum Bahagia Anak Yatim Penyandang Disabilitas Dapat Bantuan Kursi Roda dan Sembako dari Polres Madiun  Berangkatkan Logistik SMK PGRI 2 Ponorogo ke Cianjur, Dindik Jatim Minta Tiap Sekolah Tingkatkan Mitigasi Bencana Karang Taruna dan Puskesmas Sudimoro Terima Bantuan Mobil Bupati Aji

Daerah · 5 Feb 2019 00:08 WIB ·

Menelisik Peta Politik Ngawi Jemput 45 Kursi


 Menelisik Peta Politik Ngawi Jemput 45 Kursi Perbesar

Oleh: Didik Purwanto*)

*) Wartawan Siaga Indonesia, Koresponden Lintas7.net Ngawi

 

Tangan timses alias orang kepercayaan caleg terlihat mulai keluar kandang blusukan ditengah konstituen/pemegang hak pilih. Mereka memperpanjang janji manis dari sang empu (caleg) dengan berharap imbalan suara pada 27 April 2019 mendatang.

Sebaliknya si caleg tidak jarang sudah ‘pede’ duluan entah mereka mengandalkan jurus jitu ataukah kendaraan partai yang ditumpanginya. Keduanya memang sulit dibedakan dan hampir sama bak bayangan berlatar lampu sorot. Terpenting apapun alasanya tenaga kuda dibutuhkan jika benar-benar caleg debutan bukan cap pupuk bawang ingin berstatus sosial wakil rakyat nantinya.

Tidak salahnya mengotak-atik peta kekuatan caleg berkendara partai pada pesta demokrasi mendatang di 6 daerah pemilihan (dapil) di Kabupaten Ngawi berebut 45 kursi kedewanan. Tentu telisik pun mengarah sebenarnya siapa yang berpengaruh di dapilnya apakah faktor partai maupun kelas caleg masing-masing dalam pertarungan nanti.

Coba kita lihat untuk Dapil 1 (Ngawi Kota, Pitu, Kasreman) diwilayah ini ada 7 kursi yang diperebutkan. Posisi petahana masih bercokol cukup kuat membuat caleg baru harus berotot jika tidak mau terdepak. Di dapil tersebut ada nama-nama caleg petahana yang patut diperhitungkan, ada Siswanto dari PKS, Supeno PAN, Yuwono Kartiko PDIP, Suntoro Gerindra.

Sederet nama tersebut punya basis meski kurang militan berpotensi pindah dukungan. Potret umumnya masing-masing partai di Dapil 1 cukup merata membuat pendatang baru (caleg) berpeluang berebut kursi meskipun Pemilu 2014 lalu PDIP mendapat 2 kursi. Diwilayah ini yang perlu diperhatikan setiap caleg jeli membaca pemilih pemula/millenial.

Sedangkan aroma biasa-biasa saja dan terbilang kurang greget ada di Dapil 2 dalam pertarungan mempengaruhi pemilih. (Kwadungan, Padas, Karangjati, Bringin). Di dapil ini posisi caleg petahana lumayan kuat. Otomatis sang penantang/caleg baru harus punya ‘power’ lebih jika tidak kepengen malu nantinya.

Meski ada nama Siswanto si caleg dari Partai Nasdem yang namanya pernah jadi pesohor birokrat Ngawi dengan posisi sekretaris daerah. Dipastikan lagi dari 8 kursi yang diperebutkan di Dapil 2 tetap ditangan si jawara pada pesta demokrasi sebelumnya (2014).

Berlanjut lagi ke Dapil 3 (Geneng, Gerih, Kendal) siapa yang berhak menduduki dari 7 kursi yang diperebutkan. Lain wilayah lain cerita tentunya, di dapil ini justru posisi petahana sedikit terancam si penantang baru. Contoh manuver Sudirman yang notabene caleg ‘anyaran’ dari PDIP luar biasa pergerakanya. Terlihat eks birokrat ini mampu menguasai medan dengan penerapan sistim gerilyanya.

Sekarang bergeser ke wilayah panas, iya Dapil 6 (Paron, Kedunggalar) dengan alokasi perebutan kursi paling gemuk 9 kursi. Perlu diketahui meski wilayah cakupanya hanya dua wilayah kecamatan namun bisa dilabeli dapil ‘neraka’ atau perang bintang kalau toh dilihat dari power caleg.

Disini bisa juga disebut kandangnya banteng jelasnya PDIP. Ingat, pada Pemilu 2014 lalu partai banteng moncong putih tersebut keluar pemenang mendapat 4 kursi dari 8 kursi yang diperebutkan.

Dan sisanya berbagi dengan partai lain yang cukup merata yakni PKB 1 kursi, Golkar 1 kursi, Partai Nasdem 1 kursi dan PPP 1 kursi. Perlu diperhatikan militansi pemilih cukup kuat di Dapil 6 terhadap partai maupun individu caleg.

Satu bukti torehan suara yang diperoleh Dwi Rianto Jatmiko/Antok caleg PDIP pada Pemilu 2014 ‘by namenya’ tembus 14 ribu suara lebih. Membuat posisi Antok yang sekarang ini menjabat Ketua DPRD Ngawi mempunyai basis suara/pemilih yang loyal.

Demikian juga posisi Anas Hamidi caleg petahana dari PKB ini dikenal mempunyai basis paten khususnya kaum nahdliyin. Ditambah sesama petahana yakni Suwardi yang akrab disapa Bendol dari Partai Nasdem dikenal dengan si jitu membaca arus pemilih. Pergerakanya tidak jauh beda dengan Sudirman caleg PDIP dari Dapil 3. Bendol terus bergerak, pelan tapi pasti.

Kita berganti ke Dapil 5 (Jogorogo, Ngrambe, Sine) merebutkan 7 kursi. Diwilayah lereng perbukitan Lawu kehadiran sang legendaris Samini si petahana dari Golkar masuk daftar paten alias bakal jadi wakil rakyat abadi.

Betapa tidak, lebih dari 6 periode nama Samini terus dinobatkan menjadi legislator meskipun pernah pindah dapil. Politisi gaek berumur 70 tahun lebih itu dikenal ahlinya meramu meyakinkan pemilih mulai pemula sampai basis emak-emak.

Namun yang turut diperhitungkan juga keberadaan PDIP manuver calegnya dikenal cukup elegan bak mesin diesel. Slamet Riyanto dan Heru Kusnindar masih menjadi momok menakutkan bagi caleg lain. Kedua caleg petahana ini mempunyai strategi matang dalam membangun kekuatan.

Namun patut diperhatikan juga keberadaan Dian Anik Purwandari caleg baru dari Gerindra bakal jadi sorotan. Pasalnya, diam-diam caleg asal Desa Kletekan, Jogorogo sudah belajar dari pengalaman pahit Pemilu 2014. Saat itu kandas menuju Senayan setelah tercatat berebut kursi DPR RI Dapil VII Jawa Timur dari kendaraan yang sama.

Untuk Pemilu 2019 ini Dian demikian sapaan akrabnya tidak mau lagi menelan pil pahit kedua kalinya. Ia ekstra hati-hati dalam grassroot ke wilayah dengan memperhatikan siapa kawan dan lawan. Apalagi Dian boleh disebut sebagai patnershipnya barisan perempuan selain si emak Sam (Samini-red).

Terakhir masuk ke Dapil 5 (Widodaren, Mantingan, Karanganyar) sebagai wilayah adem ayem. Meski calegnya ada yang mengaku adem panas menjelang coblosan kurang dari 60 hari tersebut.

Dengan pertaruhan 7 kursi yang diperebutkan membuat Dapil 5 terasa dingin. Belum ada yang terlihat muncul terbuka ke medan laga masyarakat. Mayoritas masih sama-sama tiarap saling mengamati strategi antar caleg antar partai. (*)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Pengunjung Goa Gong Tertimpa Atap Gazebo Runtuh

5 Desember 2022 - 20:40 WIB

Hanya 3 Jam Pemasangan, Pipanisasi 4,5 Kilometer Bisa Dinikmati Warga

1 Desember 2022 - 22:57 WIB

Berangkatkan Logistik SMK PGRI 2 Ponorogo ke Cianjur, Dindik Jatim Minta Tiap Sekolah Tingkatkan Mitigasi Bencana

29 November 2022 - 23:02 WIB

Ratusan Warga Daftar PPK Pemilu 2024

27 November 2022 - 20:18 WIB

Karang Taruna dan Puskesmas Sudimoro Terima Bantuan Mobil Bupati Aji

26 November 2022 - 20:06 WIB

Alokasi Kursi Dua Dapil di Pacitan Berubah

25 November 2022 - 15:42 WIB

Trending di Daerah