Menu

Mode Gelap
Jembatan Borang Runtuh Saat Perbaikan, 2 ASN Luka-luka Gapoktan Desa Slambur Ciptakan Pestisida Ramah Lingkungan  Senyum Bahagia Anak Yatim Penyandang Disabilitas Dapat Bantuan Kursi Roda dan Sembako dari Polres Madiun  Berangkatkan Logistik SMK PGRI 2 Ponorogo ke Cianjur, Dindik Jatim Minta Tiap Sekolah Tingkatkan Mitigasi Bencana Karang Taruna dan Puskesmas Sudimoro Terima Bantuan Mobil Bupati Aji

Ngawi · 11 Feb 2019 12:08 WIB ·

Terkait Do’a Mbah Moen, TKN Jokowi-Ma’ruf Amin: Do’a Jangan Dipolitisir!


 Budiman Sudjatmiko, Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin Perbesar

Budiman Sudjatmiko, Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin

NGAWI. Budiman Sudjatmiko anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf Amin mengatakan Fadli Zon tidak berhak menentukan do’a Kyai Maimoen Zubair atau Mbah Moen sebagai do’a yang tertukar, lebih-lebih do’a yang salah.

Menurutnya, do’a itu sifatnya vertikal yang lebih tahu hanya orang yang mendo’akan dengan Tuhannya. Sangat disayangkan jika Fadli Zon terlalu nyinyir terhadap suatu do’a dengan cepat merespon tanpa menilai hakikatnya suatu do’a itu sendiri.

Kritikan Budiman Sudjatmiko yang sekaligus politikus PDIP ini disampaikan saat mengunjungi rumah aspirasinya di Desa Soco, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur, Senin, (11/02/2019). Urainya, semua do’a jangan sekali-kali dikaitkan dengan politik.

“Dia itu (Fadli Zon-red) jangan menilai-nilai ini doa yang salah atau benar. Itu bukan hak dia,” terang Budiman Sudjatmiko.

Dari kacamatanya, sudah jelas Kyai Maimoen Zubair merupakan Kyai sepuh yang mempunyai karismatik tersendiri di kalangan NU. Namun lepas dari persoalan itu, Budiman tidak ingin melihat keberadaan Mbah Moen sebagai tokoh sentral NU. Sebab, dasarnya do’a bentuk keyakinan antara umat dengan Tuhannya.

“Saya tidak ingin melihat tokoh NU tidaknya, tapi apakah do’a yang dipanjatkan meskipun itu si tukang nderes berhak disalahkan jelas tidak. Hakikatnya setiap orang boleh dan berhak berdo’a sesuai kehendaknya, jangan disalahkan,” bebernya.

Sejak awal puisi Fadli Zon tersebut yang disinyalir berbau politik justru ditanggapi Budiman Sudjatmiko dengan adem ayem. Karena tidak kepengen menyeret persoalan tersebut ke pusaran politik praktis apalagi dikaitkan dengan Pilpres 2019.

Sesuai hematnya, kaum Nahdliyin (NU-red) dengan sendirinya akan melihat secara utuh kehadiran kaum nasionalis yang tidak pernah menilai apapun suatu do’a apakah itu benar maupun sebaliknya. Karena semuanya itu urusan umat dengan Tuhanya bukan sesama umat saling menyalahkan apalagi menilai.

Polemik puisi Fadli Zon tersebut menyusul ketika Presiden Jokowi menyambangi Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah yang diasuh Kyai Maimoen Zubair, Jum’at, (01/02/2019). Di akhir acara, secara tidak sengaja kyai karismatik tersebut kepleset menyebut nama Prabowo. (pr)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Ratusan Warga Daftar PPK Pemilu 2024

27 November 2022 - 20:18 WIB

Alokasi Kursi Dua Dapil di Pacitan Berubah

25 November 2022 - 15:42 WIB

Pertemuan Anies dan 3 Partai, Demokrat : Kami Makin Solid

20 November 2022 - 12:33 WIB

Deklarasi Dukungan Prabowo Subianto Presiden Terus Mengalir

24 Oktober 2022 - 07:28 WIB

Komunitas Petani Cabe di Pacitan Deklarasi Prabowo Presiden 2024

22 Oktober 2022 - 14:55 WIB

KPU Pacitan Gelar Sosialisasi Perubahan Keputusan KPU Nomor 259 dan 260

31 Agustus 2022 - 21:46 WIB

Trending di Nasional