Bumi Nyiur Melambai

- Jurnalis

Senin, 4 September 2023 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menjadi peserta rakor pemetaan potensi permasalahan hukum, sekaligus menjadikan pengalaman perdana saya menginjakkan kaki di Tanah Minahasa.

Menjadi peserta rakor pemetaan potensi permasalahan hukum, sekaligus menjadikan pengalaman perdana saya menginjakkan kaki di Tanah Minahasa.

UNTUK pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Di ujung utaranya. Tepatnya di Kota Manado, Sulawesi Utara. Bumi nyiur melambai. Bukan karena sedang healing. Tetapi menghadiri undangan Rakor Pemetaan Potensi Permasalahan Hukum. Undangan dari KPU RI. Acara tersebut digelar selama tiga hari pada pekan kemarin. Mulai Senin (28/8) hingga Rabu (30/8). Sungguh pengalaman luar biasa bagi saya, kembali menginjakkan kaki di luar pulau Jawa. Karena memang saya minim sekali pengalaman ke luar Jawa.

Dari Pacitan, saya berangkat bersama Kasubbag Hukum dan SDM Danang Kuntadi. Ini merupakan rakor gelombang kedua. Gelombang pertama usai dilaksanakan pada pekan sebelumnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Undangannya adalah divisi hukum dan pengawasan bersama kasubbagnya di KPU kabupaten/kota se-Indonesia, berikut divisi dan kabag dari KPU provinsi.

Saya baru tahu, jika ke Manado itu pesawatnya harus transit. Jika dari Pacitan, biasanya bandara terdekat adalah bandara YIA Yogyakarta atau bandara Adi Sumarmo Boyolali. Dua bandara tersebut, tidak ada jadwal penerbangan langsung Manado. Akhirnya saya berangkat melalui bandara Juanda, Sidoarjo. Di bandara ini, dalam sehari terdapat beberapa penerbangan ke Manado. Namun, hanya ada satu kali penerbangan langsung. Itupun dijadwalkan take off pukul 07.40 WIB.

Bersama Pak Danik-sapaan karib Danang Kuntadi- saya diantar driver KPU Pacitan Dwi Cahyoko untuk menuju bandara Juanda pada Minggu (27/8) malam. Perjalanan kami dari Pacitan sampai bandara, memerlukan waktu kurang lebih enam jam. Kami tidak ingin mepet jadwal penerbangan. Sehingga berangkat lebih awal.

Setelah terbang hampir tiga jam, kami mendarat di bandara Sam Ratulangi Manado. Sebelum mendarat, kami disuguhi pemandangan eksotis dari udara: pulau-pulau dengan pesisir pasir putih dan air berwarna biru bersih. Serta satu lagi yang menjadi perhatian saya adalah barisan pohon kelapa yang banyak sekali. Belakangan saya baru mengerti, pantas saja wilayah ini mendapat julukan: Bumi Nyiur Melambai!

Baca Juga :  633 Orang, 17 Partai

Pertama kali menginjak tanah Minahasa, saya melihat jam di ponsel menjadi dua. Ada jam Waktu Indonesia Barat (WIB) dan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Rupanya, saya berada di wilayah tengah Indonesia.

Pembukaan acara dijadwalkan malam. Dibuka langsung ketua KPU RI Hasyim Asyari. Beliau didampingi sejumlah anggota, sekjen serta pejabat dan staf di setjen KPU RI. Rakor ini mengangkat tema besar: penanganan potensi permasalahan hukum dugaan pelanggaran administrasi dan sengketa proses Pemilu Tahun 2024.

Sesuai judulnya, rakor ini membahas sesuatu hal yang cukup krusial. Hari pertama, usai pembukaan disambung dengan pengarahan dari sejumlah anggota KPU RI. Berlangsung hingga lebih dari pukul 23.00 WITA. Sedangkan di hari kedua, sejumlah materi disampaikan oleh beberapa narasumber. Di antaranya adalah dari PTUN, DKPP, inspektur pada Inspektorat KPU RI, hingga deputi dukungan teknis KPU RI. Termasuk materi utama dari Divisi Hukum dan Pengawasan KPU RI Muhammad Afifuddin.

Pada sore harinya, dilakukan praktik tata cara mediasi penanganan permasalahan hukum. Kami berdinamika dalam forum tersebut. Sebelum akhirnya acara diakhiri dengan penutupan.

Usai penutupan, saya dan pak Danik memanfaatkan waktu untuk melihat keindahan kota Manado. Bapontar, katanya. Kebetulan, di tempat itu ada Mas Doni Diadon. Senior sekaligus sahabat saya yang saat ini menjadi top leader di Kawanua TV Manado. Salah satu objek utama kami adalah kuliner ikan bakar. Lebih tepatnya rahang tuna bakar sambal dabu-dabu. Serta satu lagi saya baru tahu, sayur woku pedas ikan patin. Rasanya? Nggak ada obat! Kata Mas Doni, salah satu kunci kelezatan masakan ikan di situ adalah dari jeruk lemonnya yang khas. Terima kasih mas Doni. Sampe baku dapa ulang!

Memang, kuliner lokal adalah salah satu sasaran saya jika pergi ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah saya singgahi. Manado ini kaya akan kuliner lokalnya. Saya mencoba namanya bubur manado. Anda tahu apa itu bubur Manado? Semacam nasi utuh dicampur ubi, labu waluh, jagung dan sayur-sayuran. Ada pula nasi kuning yang khas. Minumannya, ada Saraba. Semacam bandrek jika di Jawa Barat.

Baca Juga :  Bersiap, Alokasi Kursi Berubah

Oya, ada satu lagi destinasi wisata andalan Manado: Bunaken. Teman-teman banyak yang menjadwalkan untuk mengunjungi tempat wisata yang terkenal akan pemandangan eksotika bawah laut tersebut. Namun, saya memilih untuk tidak ikut bergabung. Sebab, kami sudah terjadwal untuk segera pulang ke Pacitan.

Jadwal penerbangan kami kembali ke Jawa Timur adalah Rabu (30/8) siang. Sementara menunggu jadwal penerbangan, pak Danik menjalani ujian dinas di Universitas Sam Ratulangi. Sementara, pagi itu saya mengunjungi Graha Pena Manado. Di situ merupakan kantornya Manado Pos dan Kawanua TV. Saya berkesempatan melihat-lihat dapur redaksi. Tak lupa mengambil foto di lantai paling atas. Keren sekali bisa melihat kota Manado dari ketinggian. Berikut sedikit dokumentasi ketika saya di Manado, termasuk bersama Mas Doni Diadon.

Pada akhirnya Rabu siang kami kembali. Berangkat dari bandara Sam Ratulangi menuju bandara Juanda. Dari Juanda, kami menempuh perjalanan darat sekitar enam jam menuju Pacitan. Perjalanan ini sungguh begitu mengesankan.

Begitulah sekelumit cerita saya pekan kemarin mengunjungi Bumi Nyiur Melambai, Tanah Minahasa, Manado. Beberapa agenda lain dalam sepekan terakhir, juga terjadi di KPU Pacitan. Di antaranya adalah pelantikan penggantian anggota PPK Arjosari, PPS Mlati (Kecamatan Arjosari) dan PPS Ketanggung (Kecamatan Sudimoro).

Seremoni penggantian anggota PPK Arjosari, PPS Mlati (Kecamatan Arjosari) dan PPS Ketanggung (Kecamatan Sudimoro) di RPP KPU Pacitan.

Anggota PPK Arjosari ini diganti usai yang bersangkutan mengundurkan diri karena lolos dalam seleksi Bawaslu Pacitan. Sedangkan penggantinya, sebelumnya merupakan anggota PPS Mlati. (*)

 

Tulisan ke-58/Edisi 28 Agustus 2023 – 3 September 2023

Berita Terkait

Rekapitulasi Kabupaten
Rekapitulasi Kecamatan
Akhirnya 14 Februari 2024
Masa Tenang
Kesiapan Hadapi PHPU
Ajukan Rekor, Pembagian Legalisasi 13.020 KPPS
Asistensi Produk Hukum
Libatkan 200 Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 4 Maret 2024 - 10:21 WIB

Rekapitulasi Kabupaten

Senin, 26 Februari 2024 - 09:46 WIB

Rekapitulasi Kecamatan

Senin, 19 Februari 2024 - 10:14 WIB

Akhirnya 14 Februari 2024

Senin, 12 Februari 2024 - 12:06 WIB

Masa Tenang

Senin, 5 Februari 2024 - 16:36 WIB

Kesiapan Hadapi PHPU

Berita Terbaru