Kehidupan saat ini bergerak dengan kecepatan yang pesan, tidak ada satupun ruang untuk berhenti melangkah dan berkarya. Tuntutan dari profuktivitas itu sendiri, dari tekanan sosial dan arus informasi yang terus mengalir membuat banyak orang merasa Lelah secara batin, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa persoalan utama pada manusia bukan hanya ekonomi dan keseimbangan diri. Keseimbangan diri mencangkup beberapa akses yang besar diantaranya membuka kesadaran bahwa banyak manusia modern yang krises atas keseimbangan hidup.
Kehidupan yang ditandai degan percepatan waktu, tekanan sosial, tuntutan produktivitas dan arus informasi yang berlebihan. Banyak individu mengalami kelelahan mental, kehilangan makna, kecemasan dan krisis identitas. Keseimbangan tersebut tertuang atas kebutuhan mendesak, namun sering sekali dicapai dengan cara yang instan. Al=Qur’an digunakan sebagai pedoman hidup yang menenangkan dan membimbing
Pada tujuan kehidupan, beberapa terkait dengan permasalahan realitas sosial diantaranya meningkatnya masalah Kesehatan mental akibat dari strees, kecemasan dan burnout, gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilannya. Banyak pula orang yang mengalami banyak pencapaian atas materi yang diberikan tetapi merasa hampa secara spiritual, Al- Qur’an sangat menegaskan prinsip dari keseimbangan sebagai ciri-ciri atas kehidupan yang sehat dan bermakna, serta menjawab arti dalam krisis kita batin dan arah hidup.
Keseimbangan diri dalamm prespektif Al=Qur’an antara lain memiliki konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an antara lain keseimbngan antara dunia dan akhirat, keseimbangan antara akal, hati, dan Tindakan, keseimbangan antara hak diri, sesame Tuhan. Al Qur;an digunakan sebagai penuntun batin, pengarah etika hidup serta menjaga manusia dari sikap yang berlebihan yang menjerumuskan dirinya. Keseimbangan diri bukan berarti menolak dunia, tetaoi kita dapat menempatkannya secara porposional yang seimbang, karena islam tidak menekan dan memihak, ia memberikan kesan dan pesan yang nyata dari prakteknya.
Keseimbangan dalam diri tidaklah lahir serta merta, namun ia diimbangi dengan aksi dan porposional yang positif, ia adalah proses dari pembentukan, bukan lahir dengan senditinya, kita juga memiliki hak dan kesempatan dalam belajar dan membangun sesuatu hal dengan baik. Al-Qur’an yang relevan sebagai pedoman hidup dari masa dulu hingga kini yang tidak pernah berubah ajarannya, berbicara tentang banyak hal bukan pada ajaran agama tetapi pada jarak manusia dan nilai-nilainya. Digunakan juga untuk menjaga pengelolaan emosi, penentu dari prioritas diri dan kita dapat menjalani kehidupan yang tenang dan bermakna. Masalahnya bukan pada ajaran agama, tetapi bagaimana agama mengajarkan kita tentang nilai-nilai kehidupan.
Permasalahn yang terjadi saat ini akan menjadikan pembaca secara keseluruhan, tujuan mengajak para pembaca opini ini untuk berhenti sejenak dari hiruk priuk dunia, sejenak mendengarkan dan menilai dari ketenangan jiwa, menghidupkan kembali semangat dan hubungan spiritual yang kuat, merenungkan kehidupan yang terjadi akibat dari adanya refleksi terhadap diri kita masing-masing. Membangun keseimbangan hidup yang utuh dengan produktif dan mengajak untuk membina hidup yang lebih baik. Sumber dari segala sumber kehidupan, menjadikan al Qur’amn sebagai pedoman dan penyeimbang diri dalam kehidupan sehari-hari. Serta diharapkan dapat mengikuti dan membangun pola kehidupan yang lebih baik, kami mengajak pembaca untuk lebih produktif tanpa kehilangan kemanusiaan, yang mana ditengah dunia yang semakin bising, manusia tidak kekurangan materi, tetapi kekurangan arah untuk menjalani hidup.
Karena produktifitas dan arah hidup yang tertata dengan baik, manusia yang hadir untuk menambah khasanah keilmuan, memperbaiki hidup serta yang paling penting adalah mengembalikan keseimbangan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya, bukan hanya dibaca tetapi juga direfleksikan dalam kehidupan yang lebih baik dan menuntun sebagai menata kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna. Mengajarkan bekerja keras tanpa kehilangan hati nurasi, berambisi tanpa melupakan makna dan beriman tanpa mengabaikan realitas yang ada.






